Wednesday, October 18, 2017

Haru Yasumi, Liburan musim semi yang penuh dengan bunga

Musim semi salah satu musim favorit saya, karena suhu mulai menghangat. Udara yang dingin bikin mager maksimal, apalagi harus ngayuh sepeda, rasanya kulit muka jadi super kenceng kena dingin. Kayaknya bukan cuman saya, tapi juga tanaman bergembira dengan datangnya musim semi. Hal ini terbukti dengan dimulainya kegiatan berkebun para ibu-ibu. Di musim ini pula seluruh kegiatan sekolah dan kuliah dimulai. Jadi rasanya nambah semangat masuk ke kampus disambut dengan mekarnya bunga-bunga.


Datangnya musim semi atau disebut dengan Haru selalu ditunggu karena di musim inilah bunga khas Jepang muncul, sakura. Kehadiran sakura setiap kotanya berbeda tergantung suhu terhangat. Biasanya di mulai dari Okinawa terus naek ke Kyushu, Tokyo, dan Hokkaido paling terakhir. Sakura hanya singkat, dua minggu dan gugurnya bisa cepat kalo hujan sering datang. Biasanya TV dan koran akan mengumumkan puncak mekarnya sakura dan orang-orang menantikan karena akan ber-hanami. Hanami sendiri berasal dari kata hana yang berarti bunga dan mi yang berarti melihat. Hanami dilakukan sambil piknik di taman-taman yang penuh dengan bunga sakura. Nah disinilah serunya, karena semua orang ingin menikmati hanami, jadi bakal dipastikan ingin mendapatkan spot terbaik. Jadi kita dulu-duluan ke koen (taman) sambil nyari posisi yang paling PW dengan menandainya sambil menaruh tiker ditempat yang kita inginkan. Dan menjelang makan siang, taman yang biasanya sepi jadi ramai, seramai-ramainya.

Waktu pertamakali hanami saya dan teman-teman sempet salah waktu. Kita pergi ke koen jam 9 pagi dan langsung tancap menyantap sajian yang ada. Terus kita liat sekeliling kok sepi ya, apa kota ini sedikit penduduknya. Ternyata kita kecepetan. Orang-orang datang menjelang makan siang saat amunisi kita sudah habis disingkat. Justru pas saat rame kita udah nggak bisa ngapa-ngapain lagi. Dan, nggak ada warung... jadi kita nyengir-nyengir aja liat orang menikmati santap siang yang keliatannya enak. wkkwkw udah laper lagi soalnya.

Setiap pengunjung bakal mengeluarkan amunisi bento terbaiknya, beberapa orang akan mulai membuka sake. Nah ada kepercayaan bahwa kalo sake kejatuhan kelopak sakura akan beruntung. Heheheh dasar saya kalo denger kata beruntung pasti pengen ada kelanjuntannya... beruntungnya kenapa (sambil ngarep bakal menang lotere) dan kata orang Jepang kamu beruntung karena kejatuhan kelopak sakura. Nggak tiap orang bisa kejatuhan kelopak sakura. Hehehhehe ooooo itu beruntungnya. Padahal saya udah ngarep keberuntungan yang sangat besar dari sekadar kelopak sakura.

Alhamdulillah, hanami tahun ini saya diapelin sama suami, jadi kita bisa menikmati bersama. Kita berhanami sampe ke Hamamatsu flower park, salah satu taman terbesar yang ada disini. Dan saat itu juga tulip bermunculan, jadi pemandangan taman bener-bener indah banget.

Saya ternyata kudet tentang perbungaan. Saya pikir bunga tulip itu hanya ada di Belanda. Bukan apa-apa selama ini saya selalu punya gambaran bunga itu hanya tumbuh di negara kincir angin. Ternyata di Jepang juga ada tulip hehehehhehehe. Dan kata informan saya yang pernah ke kebon tulip di Belanda, tatanan tulip di Jepang lebih "berwarna" daripada di Belanda.


Sayangnya munculnya bunga-bunga berarti banyaknya pula serbuk sari yang berterbangan. Nah, dimusim ini pula biasanya kafun atau alergi serbuk bunga bermunculan. Sampai-sampai di setiap ramalan cuaca akan selalu diberitakan berapa persentase polen hari itu. O iya, laporan cuaca di TV Jepang itu sangat detil, sampe-sampe diinformasikan apakah hari ini cocok untuk jemur pakaian atau tidak heheheheh.  Eh balik lagi ke kafun. Buat yang alergi bukan cuman bersin-bersin tapi juga gatal-gatal di sekitar mata, berairnya mata dan hidung, bahkan sampe ke bengkak. Biasanya toko-toko akan menjual kacamata khusus untuk menghindari serbuk bunga juga dimulainya musim orang bermasker. Bahkan ada yang menjual pakaian yang anti kafun segala.



Tuesday, October 10, 2017

Liburan musim panas terakhir di Hamamatsu

Nggak kerasa kalo saat ini sudah dua natsu (musim panas) terlewati dan rasanya waktu untuk pulang semakin dekat. Jepang mempunyai cuaca empat musim seperti Fuyu (musim dingin), Haru (musim semi), Natsu (musim panas) dan Aki (musim gugur). Semua musim dinikmati dengan caranya tersendiri, ada bermacam matsuri (festival), makanan dan pakaian yang berbeda untuk tiap musimnya. Saat musim panas inilah liburan anak sekolah terpanjang dan kegiatan di luar rumah merupakan kegiatan favorit. Cuman panasnya itu yang suka kebangetan dan pemerintah menghimbau untuk menghemat listrik dengan menyalakan AC manteng di 28 derajat saja. Walhasil kalo udah gini, kipas angin jadi andalan untuk menyejukkan tubuh. Di musim ini pula para toko biasanya membagikan kipas-kipas secara gratis untuk para pengunjungnya, nah kerjaan kita emang bolak-balik masuk toko demi mendapatkan gambar kipas yang berbeda. Selain itu handuk panjang kecil jadi trend semua orang untuk menghapus keringat yang menetes derasnya... gayanya persis sih kayak abang becak tapi gunanya ngurangin lengket badan.

Derajat kepanasan yang ada sangat menyebalkan. Disinilah saya mengerti kenapa minuman semacam ion water sangat banyak dijual, karena memang dehidrasi berat sangat sulit dihindari. Beruntung tahun ini akhir puasa jatuh pada awal Natsu, jadi perjalanan panjang matahari hanya dialami saat akhir saja. Berbeda dengan tahun lalu, kami menjalani puasa full saat musim panas, yang ada siang hari kita cuman bisa tiduran ditemani kipas angin atau berendam air dingin demi mencegah rasa haus. Nah, bagian seger-segernya sih di musim ini ada kakigori dan ramune. Ramune adalah istilah untuk lemonade, nah kenapa jadi ramune...karena dari pengucapan remone- dan akhirnya jadi ramune. Soal rasa ramune sih biasa aja, minuman bersoda, masih kalah sama soda gembira. Kita bahas yang istimewa aja lah, Itu tuh si Kakigori yang nggak ada hubungannya dengan kaki kambing :P.

Kakigori hanya tersedia saat musim panas dan biasanya di kedai-kedai makanan banyak dijual. Kakigori itu sebetulnya es serut yang disirap berbagai sirup rasa-rasa. Favorit saya sih ogura dan matcha kakigori. Dijual di cup-cup dan disantap saat panas ngabelentrang gitu deh. Nah, kakigori yang paling heboh yang pernah saya nikmati itu kakigori di Nunohashi, sebrang SMA Hamakita. Ukurannya jumbo pisan, dan makannya harus cepet kalo nggak itu gunung esnya bakalan rubuh. Kalo dari strukturnya, kakigori punya kelembutan serutan es lebih dari es serut yang ada di Cimahi. Nah enakkan esnya......

Natsu juga identik dengan Hanabi.... inget ya hanabi yang artinya kembang api, berbeda dengan hanami yang artinya melihat bunga (sakura). Biasanya menikmati hanabi dengan piknik makan malam, terus pake yukata (kimono musim panas) dan saatnya nyari pacar hehehhehehhe. Kalo saya sih menikmati tebak-tebakkan bentuk kembang api yang berbeda-beda. Hanabi matsuri pun digelar tiap kota, dan salah satu yang terbesar di Fukuroi, Shizuoka. Kereta akan mengantarkan kita ke TKP, dan stasiun akan sangat penuh karena hampir semua orang ingin menonton hanabi yang diperlombakan juga.


Thursday, August 31, 2017

Ngasuh Bocah di Shinkansen Museum Nagoya

Setiap akhir pergantian musim, Japan Railway selalu mengeluarkan tiket kereta terusan yang harganya terjangkau oleh mahasiswa seperti saya ini. Tiket ini bernama Juhachi-kippu, yang artinya 18 tiket, bisa digunakan siapa saja tidak terbatas usia 18 dan isinya 5 tiket. Satu tiket ini bisa dipake lima orang atau seorang dengan lima tujuan. Sisa satu tiket juhachi-kippu yang saya miliki, diakhiri dengan manis bersama teman kampus dengan tujuan SCMAGLEV & Railway Park, Nagoya.

 photo E2EC8D01-2A64-4B81-93E4-3268633A9F9B_zpsqezr9sjz.jpg



SCMAGLEV & Railway Park adalah museum kereta milik JR (Japan Railway) yang memiliki koleksi kereta cepat mulai dari kereta api, elektrik sampai ke teknologi terkini, yaitu magnetik. SCMAGLEV adalah singkatan dari Super Conducting Magnetic Levitation. Yap bener...seperti foto levitasi yang melayang. Jadi kereta shinkansen magnetic itu rodanya melayang karena gaya magnetik tidak  seperti kereta konvensional menempel pada rel. Itulah sebabnya kereta ini bisa memacu kecepatannya secara maksimal. 


Untuk bisa sampai kesini, kami memulai perjalanan dari Hamamatsu Eki ke Nagoya Eki lalu meneruskan perjalanan dengan menggunakan kereta Aomori line menuju Kinjufuto Eki dengan harga 350Y sekali jalan. Dari Kinjufuto Eki, museum sudah kelihatan bentuk dan rupanya, posisinya bersebrangan dengan Legoland Japan. Harga tiket museum dibandrol untuk dewasa 1000Y, anak-anak 500Y. Jika beruntung, bisa mendapatkan undian untuk ikut simulator shinkansen dan kereta konvensional.



Setelah membeli tiket, memasuki gerbang awal, disuguhi langsung oleh 3 buah kereta legendaris Jepang, yaitu Tsubame C62, Shinkansen 300 dan Shinkansen MLX01-1. Ketiganya merupakan pemegang rekor tercepat dengan tahun dan jenis yang berbeda. Tsubame kereta api/ uap, sedangkan shinkansen menggunakan daya listrik dan magnetik. Kita bisa masuk kedalam kereta-kereta ini dan menikmati interior dalamnya.



Setelah itu kita memasuki ruangan Great Rolling Stock Hall, tempat dimana seluruh koleksi kereta di pamerkan. Untuk kenang-kenangan, kita diperbolehkan berfoto di depan shinkansen dengan tanggal yang telah tersedia. Tadinya sih kita mo gaya biasa-biasanya, cuman si Mbaknya nyuruh eksyen dengan gaya hormat. Hahahahha jadinya ya kayak gini ini nih gaya kita berfoto... Keren pisan yah hihihihihi




Di area ini kita bisa puas melihat kereta luar dalam mulai dari seri kereta klasik sampai shinkansen yang terbaru, bahkan yellow shinkansen aka dr yellow pun ada. Favorit saya adalah kereta shinano, kereta special rapid yang jendela sangat lebar. Paling asik naik kereta ini ke arah Nagano melintasi pegunungan Japan Alps, sungai yang bersih dan danau yang tenang. Mata jadi seger....

Pemerintah Jepang sangat serius dengan transportasi kereta, karena dengan sarana ini dapat menghubungk seluruh daerah baik di kota maupun di pelosok. Selain itu dengan kemampuan menampung penumpang yang sangat banyak, kereta menjadi andalan untuk transportasi massal.


 photo Medieval_zpsrhcgy1xp.jpg









Salah satu ikon menarik disini adalah dr yellow, yang merupakan shinkansen pemeriksa jalur dan rel yang dilalui oleh shinkansen. Dr yellow tidak membawa penumpang, tapi membawa peralatan pemeriksa keselamatan. Kehadirannya yang tidak setiap hari membawa kepercayaan bahwa orang yang melihatnya dalam perjalanan berarti mendapat keberuntungan :)























Selain itu di area koleksi shinkansen juga ada miniatur tiket counter,cara shinkansen bekerja, sampai kursi green car (kelas eksekutif) jadi disini kita bisa mendapatkan pengalaman mulai dari membeli tiket sampai merasakan duduk di kursi nyaman. Karena tidak semua orang Jepang juga berkesempatan naik Shinkansen karena harganya yang bikin merogoh saku dalam pake banget.


Museum ini penataannya keren dengan menggunakan cahaya alami.Jadi kalo kesorean kebayang jadi gelap dan nggak bisa liat koleksi dengan maksimal. Selain itu, museum ini mempunyai diorama stasiun di kota-kota besar jepang yang dilalui oleh shinkansen. Nah buat yang kehausan dan kelaparan jangan khawatir ada cafe, vending machine dan souvenir shop yang bisa dijajaki untuk membeli  omiyage untuk keluarga tercinta di rumah.






















Yuk yang mau mampir sini saya anter.... soalnya beneran saya nggak ada bosennya untuk berkunjung kemari. Atau mau mampir ke sebelahnya, Legoland Jepang juga boleh deh.....

Tuesday, February 28, 2017

Hina Matsuri bukanlah festival yang menghina

 photo 43402EF9-D05E-4216-A3E8-D127BBC7770B_zpsfbrq4zoy.jpgSetiap tanggal 3 Bulan Maret di Jepang diperingati sebagai Hina Matsuri atau terjemahan bebasnya Festival Hina tapi sungguh ini bukan festival yang saling menghina. Kata Hina sendiri berasal dari kata Hina Ningyo (ひな人形) atau boneka perempuan. Dan festival ini dipersembahkan untuk anak perempuan, mendoakan kebahagiaan dan kesehatannya.

Untungnya jadi mahasiswa ya gini deh, kampus selalu mengadakan acara perkenalan budaya dan kita cepet-cepetan daftar kalo mo ikutan. Saya berkesempatan untuk melihat dari dekat pameran boneka hina ini di Kanzanji Temple, Fukuroi. berangkatlah bersama 12 peserta lainnya dan didampingi Sensei. Dengan kereta JR Lokal, kami berangkat dari Stasiun Hamamatsu menuju Stasiun Fukoroi dan selanjutnya bus milik pemda menjemput kita untuk mengantar ke tempat Hina Matsuri. Ini kali kedua saya mampir kesini, sebelumnya saya ikut juga acara Hi Matsuri (Festival Api) Bulan Desember tahun lalu. 

 photo 4AC8CF07-48AD-4F51-8224-838910960977_zpstmdn1egy.jpg
 photo 157ADC89-8BDE-4486-A83D-62FF0B0B8CC7_zpsxeavgemc.jpg


Tuesday, February 21, 2017

Lima teknologi tepat guna saat musim dingin tiba

Tahun ini merupakan tahun kedua saya mengalami musim dingin di Hamamatsu. Perubahan suhu yang berangsur-angsur ke satu digit dan malah ke minus harus dihadapi saya tanpa bisa ditawar lagi. Yang pasti jadinya mager dan ngemil terus... udah kebayang naek sepeda kena angin..brrrrr.

Dulu, seingat saya, gambaran menghadapi salju dan musim dingin yaitu menggunakan pakaian tebal supaya badan tetap hangat. Tapi kalo diperhatikan, penduduk lokal kayaknya nggak terganggu dan beraktifitas biasa aja dengan suhu yang rendah ini. Setelah diselidiki (hahahhah kayak detektif partikelir aja) kok bisa udara dingin gini masih pake celana pendek, ternyata mereka memanfaatkan teknologi yang menurut saya tepat guna dalam menghadapi dingin. Jarang orang Jepang memakai jaket tebal (kecuali di Hokkaido yang memang selalu bersuhu minus) selama fuyu (winter). Dan inilah teknologi yang bikin saya takjub cara mereka menghadapi musim dingin. Saya nggak tau pasti apa di negara yang memiliki musim dingin menjual pula peralatan seperti yang ada di Jepang, Apa aja sih yang bikin mereka selalu nyaman selama musim dingin, yuk dibahas.... Barang-barang ini juga bermanfaat buat teman-teman yang pengen menikmati fuyu (winter) di sini.

1. Pakaian dengan teknologi Heattech
 photo 81B5063D-ACA3-43F4-8300-43943332D99E_zpsz6h5ahw5.jpg
sumber :jpgo1688.pixnet.net
Bukan Jepang kalo nggak ngulik apapun, contohnya produsen pakain Uniqlo menemukan teknologi heattech untuk menghadapi musim dingin. Teknologi ini menahan dan membuat badan tetap hangat dari kelembaban kulit manusia. Terus nggak bikin bau badan lagi walaupun dipakai lebih dari sehari. Bahannya tipis dan ringan tapi hangatnya mungkin lebih dari jaket tebal. Jadi teknologinya kehangatan diciptakan dari badan pemakai produk ini. Makanya jangan heran kalo melihat orang jalan-jalan memakai celana pendek dan stocking nggak kedinginan.... karena beliau-beliau ini memakai produk yang sangat.inovatif ini,  tetap bergaya di musim dingin. Harganya juga nggak terlalu mahal, cuman pilihan model dan warna saja yang terbatas. Pernah suami saya iseng make heattech di Bandung, hasilnya seluruh badannya mandi keringat. Saya belum dapet info apakah di Jakarta sudah tersedia produk ini. Untuk bocoran saja, atasan heattech bisa dibandrol sekitar 790Y. Level kehangatan yang dijual juga beragam, ada heattech, super heattech dan ultraheattech, disesuaikan dengan keinginan pembeli.

Saturday, January 28, 2017

Nostalgia ke jaman '70 di Museum Toyota

Juhachi Kippu terakhir dimanfaatkan untuk berkunjung ke kota sebelah, Nagoya. Tujuan utama sih ke Toyota Automobile Museum yang ada disini, dan baru sempet juga dimenit-menit terakhir liburan sekolah anak-anak. O iya, juhachi kippu itu tiket untuk perjalanan kereta api dengan harga sekitar 2100y seharian menggunakannya dan hanya keluar saat libur sekolah saja. Kalo harga normal, tiket perjalan sekali ke Nagoya bisa sekitar 2000y, pp bisa 4000y. Ini linknya ya kalo temen-temen berminat mampir ke sini, dalam bahasa inggris kok Toyota Automobile Museum

 photo 3608ABF7-54B2-4B2A-8327-D8B04B54D143_zpsfasp0y76.jpg

Enaknya maen ke museum di Jepang, tiket untuk anak-anak gratis, hanya orangtuanya saja yang  bayar. Kalo keluar pelitnya atau museum yang pernah saya kunjungi, biasanya saya cuman nunggu diluar aja hehehehhehe. Maklum, tiket orang tua biasanya dibandrol dengan harga 1000y, mending saya pake beli makanan atau minuman aja.

 photo 6B356CF5-974D-45EF-89BE-86371D9083E9_zpsibanqhcw.jpg


 photo F5AA1F07-2D1F-48A1-B5B7-5085F5E9B0A6_zpsphrtfawz.jpg


Walaupun udah siang, udara masih kerasa dingin aja karena memang musim di penghujung Aki (gugur) menuju Fuyu (dingin). Kita buru-buru masuk gedung karena anginnya bener-bener bandel banget.

Museum Toyota ternyata nggak didominasi sama mobil Toyota, tapi lebih ke perjalanan bagaimana mobil menjadi pelengkap kehidupan manusia. Mobil dari segala negara dipajang disini, termasuk mobil-mobil perintis dengan mesin engkol.















Awalnya Toyota itu memakai nama asli pemiliknya, Toyoda. Tapi menurut perhitungan keberuntungan, nama Toyoda とよだ lebih dari 10 karakter huruf katakana yang berarti kurang beruntung. Akhinya teng-teng dihuruf da dihilangkan dan menjadi Toyota とよた sampai sekarang ini.

 photo 8AE859B5-512B-4411-9C35-61FA4D414254_zpsm1yx6na8.jpg


Museum yang terdiri 3 lantai ini ditata sangat apik dan rapih. Nggak lupa mbak-mbak yang menyambut kita di setiap lantainya. Lantai pertama ada video wall di information corner, cafe, museum shop, tiny studio untuk anak TK. Di pintu masuk langsung disambut mobil pertama buatan Toyota, Toyoda model AA. Ternyata mobil pertama buatan Jepang juga gede-gede nggak kayak mobil model sekarang city car.

 photo EEF855F4-C0A1-4186-AFDD-9A7BEC442522_zpsga8xmjst.jpg


Di lantai 2, mulai disusun secara kronologis kelahiran mobil-mobil dari segala penjuru dunia. Berhubung usia yang sudah sepuh, mobilnya cuman bisa ditatap aja, nggak boleh disentuh. Ajaibnya, semua mobil ini masih bisa distater dan jalan lho. kadang-kadang ada eksibisinya khusus menjalankan mesin-mesin uap yang tangguh ini.

 photo 78635ABD-E03C-4E6F-8DC6-E9A9D0430EAF_zpsajwnwvu6.jpg


 photo 1DB8DF89-231F-4FD4-B3CB-18B87123B93C_zpsad1vb8af.jpg


Wednesday, January 25, 2017

Sake, the soul of Japanese

Tidak salah jika menempatkan sake menjadi soulnya orang Jepang, karena dalam setiap kesempatan, setiap waktu selalu sang sake datang menemani, baik dalam suka maupun duka. Bahkan ada kebiasaan bonenkai dan nomikai, yaitu budaya minum bersama sesama anggota keluarga, kantor maupun komunitas. Sake menjadi salah satu hal penting dalam kehidupan di Jepang.

 photo 19A6EF90-63B7-4132-8578-92A7EB618FD3_zpsnu3rkdsx.jpg

Istilah sake juga merujuk pada minuman alkohol non Jepang seperti bir, wiski, dll. Untuk produk Jepang dikenal dengan sebutan Nihon Shou. Nihon Shou berbahan dasar beras khusus yang nantinya akan diproses dan fermentasi. Mirip dengan pembuatan tape ketan hitam di Indonesia. Seluruh prosesnya sama, hanya untuk sake ditambah penambaan proses pengepulan alkohol sebagai hasil utama. 


  photo 81BDB4A2-B9D3-4B3E-A2A5-289E49CC3824_zps0ha8zjcj.jpg


Thursday, October 29, 2015

Huis Ten Bosch, Amsterdam rasa Ajinomoto

Kalo denger namanya Huis Ten Bosch memang rada ke Belanda-belanda yang katanya salah satu Istana Kerajaan Belanda di Hague yang didiami oleh Ratu Beatrix. Terjemahan bebasnya sih rumah di dalam hutan. Jadi sudah terbayanglah keasrian Istana Kerajaan Belanda ini.

 photo IMG_0713_zpsrcnvhfv4.jpg


 photo IMG_0691_zps6vhvijno.jpg

Tapinya yang saya kunjungi kali ini bukan Huis Ten Bosch di Belanda hehehhehe. Walaupun kulitnya berbau Belanda yang lengkap dengan tulip dan kincir angin, tempat yang saya kunjungi berada di Nagasaki. Iya... di Jepang.... di Nagasaki yang korban keganasan bom atom seperti di Hiroshima. Saya hampir nggak percaya kalo tempat ini juga pernah diratakan oleh "Fat Man", bom nuklir kedua yang dijatuhkan di Jepang.

  photo IMG_0712_zpsnd9fqe3k.jpg

Perjalanan ke Huis Ten Bosch, Nagasaki dimulai dari Stasiun Tokyo menggunakan Shinkansen. Untungnya saya berbekal JR Pass yang memungkinkan untuk keliling Jepang menggunakan Shinkansen tanpa harus membayar. JR pass hanya dapat dibeli di negara asal, jadi saya membelinya di Bandung. Kalo nggak saya harus merogoh saku sebesar 27.550 Yen. Perjalanan yang melintasi pulau Honshu ke Kyushu (via bawah laut) ini memakan 423 menit (asli tepat banget). Sempat berganti kereta di Hakata, Fukuoka, lanjut dengan menggunakan Ekspress train ke Huis Ten Bosch.  Selama perjalanan nggak sempet menikmati, heheheheh saking cepetnya pemandangan di luar cuman berbentuk garis-garis... jadi mending lanjut tidur aja.


Dan sesampainya di Huis Ten Bosch, rasa capai hilang berganti dengan rasa takjub disambut tulip yang sedang malu-malu mulai mekar.....
 photo IMG_0704_zps3ssgverp.jpg

Monday, August 31, 2015

Dari temen jadi demen (From Friendship to Fellowship)

Kalo baca judulnya pasti langsung yang terbayang sinetron kejar tayang yang setia nongkrongin televisi di rumah-rumah kita. Tapi sumprit, judul ini nggak ada hubungannya dengan TV ataupun dengan sinetron, judul ini cuman terjemahan bebas (sebebas-bebasnya) dari kata-kata inggris friendship to fellowship yang nggak ada sambungannya juga. Friendship adalah suatu hubungan pertemanan yang sangat akrab, sedangkan fellowship mempunyai beberapa arti, selain pertemanan tetapi juga artinya "an award of money to a graduate student in return for some teaching, research work, etc." 

Meneruskan kembali ke bangku sekolah merupakan godaan terbesar selama ini yang sulit saya matikan baranya. Teringat masa-masa saya lulus kuliah, dan bercita-cita untuk mendapatkan salah satu beasiswa yang ditawarkan oleh negara-negara donor. Keinginan ini terus menggoda sampai terhenti karena saya menikah, punya dua anak, dan membesarkannya, lalu... waktu berlalu dan batas umur mentok untuk bisa apply beasiswa.



Tapi mungkin doa dan harapan di dalam hati selalu ada, sampai suatu hari mata saya tertuju ke iklan beasiswa yang ada di blog seseorang tentang beasiswa. Entah kekuatan apa yang membimbing saya untuk melihat informasi tersebut (Good, nggak ada batas umur) dan melihat batas waktu pendaftarannya masih ada 2 minggu. Dengan sisa waktu di Bulan Februari yang ada, akhirnya saya mengumpulkan seluruh persyaratan yang diperlukan dan membuat research plan tercepat dan terkilat yang pernah saya buat. Seluruh sahabat saya semasa di kampus membantu membuka cara berpikir ilmiah saya yang sudah tertinggal 25 tahun yang lalu (love you all guys.... from moon and back). Dan seperti mengikuti lomba-lomba blog, saya baca baik-baik persyaratan, kata kunci, dan submit seluruh persyaratan lalu menutupnya dan melupakannya.


Thursday, August 20, 2015

Early birds catch worm, early me gets Sakura Blossom

Saya ini jauh dari gambaran seorang penggemar bunga, apalagi harus meluangkan waktu untuk bisa menikmatinya. Kalo motret juga rasanya sih jarang banget berusaha untuk bisa menemukan keunikannya. (heheheh maaf, saya gagal ikut 30 hari motret bunga). Tapi kali ini saya dibuat takjub melihat betapa antusiasnya orang untuk menikmati hanami. Berawal dari menghabiskan suatu sore di Ueno Park. Niat awalnya sih cuman mau jajan-jajan cantik sambil mampir di bonbin.

 photo IMG_0641_zpsdrt7ocb4.jpg

Keluar Stasiun Ueno yang tepat di Yodobashi Depatodan pasarnya, tidak terlihat keadaan yang istimewa, hanya pemandangan orang berbelanjad dengan jaket tebal yang belum siap ditinggalkan karena hawa dingin masih merajai. Tetapi setelah pasar terlewati, di pintu gerbang depang Ueno Park, mulai terdapat kerumunan orang dibawah pohon .... ohhh ada sakura yang prematur berbunga.

 photo IMG_0659_zpscwfnywrv.jpg

Biasanya sakura berbunga di akhir Bulan Maret, tapi ternyata di Tokyo ada beberapa pohon sakura yang mulai berkembang. Istilah untuk melihat sakura mekar adalah hanami, dari kata hana = bunga dan mi artinya melihat. Hanami bersamaan dengan datangnya Golden Week, hari libur di Jepang saat orang-orang menikmati datangnya musim semi sambil piknik dibawah pohon sakura dan menikmati bunganya jatuh membelai pipi. 

 photo IMG_0651_zpsn2lpjfg3.jpg

Sebelum mulai mekar, pohon sakura cenderung terlihat meranggas tanpa daun. Hanya ujung-ujung cabang dan ranting terlihat semu pink, tempat dimana calon bakal bunga akan mekar kita cuaca mulai menghangat.

 photo IMG_0676_zpssl4lgimu.jpg

Semua orang mulai keluar rumah untuk melakukan aktivitas menyambut musim semi dan cuaca yang semakin hangat. Saya sebetulnya belum ngerti juga filosofi kenapa orang Jepang selalu merayakan hanami sampai serius banget, sampai tiap tahun badan metrologinya melaporkan kapan sakura mulai mekar. Biasanya saat hanami, sakura hanya mekar 10 hari dan kemudian pergi sampai kembali tahun depan.

 photo IMG_0667_zpslctcznyk.jpg


Ternyata, saat hanami tidak hanya bunga sakura yang mekar atau dalam Bahasa Inggrisnya Cherry Blossom,  tapi juga bunga Ume Persik, Plum) juga ikut menampakkan diri. Buat saya yang awam, tipis perbedaannya, hanya kalo sakura lebih berlapis-lapis.


 photo IMG_0665_zpskoxi1sud.jpg