Monday, February 18, 2019

Vincent van Gogh, just my simple thought.

Sebagai pembukaan, saya cuman ingin mengingatkan bahwa saya bukan seorang yang mengerti tentang arti seni, terutama lukisan dan teman-temannya, apalagi mengomentari hasil karya seni seseorang. Saya pun mengenal karya van Gogh hanya sebatas lukisan yang paling terkenal (oleh siapapun) "Sunflower" alias bunga matahari yang saya kenali dari kartu ulangtahun dari mantan pacar. Jadi apapun yang saya tulis dibawah ini hanya pengamatan seorang awam yang baru melihat secuil perjalanan van Gogh dari museumnya.





Petualangan ke Museum van Gogh terjadi sebetulnya karena sudah beberapa hari saya mengelilingi Amsterdam, serta hari yang diselimuti udara dingin plus hujan tapi saya ogah rugi kalo berada dalam rumah. Pilihan jatuh ke sini karena saya lebih buta lagi dengan muse
um lainnya (padahal ada Rembrandst dan Rijk). Bayangan saya akan lukisan kuning cerah bunga matahari membuat nilai plus  Museum van Gogh (dimata saya ya) layak dikunjungi oleh saya.

Tiket seharga 18 euro saya peroleh secara online karena memang tidak ada penjualan secara offline. Karena cuaca yang tidak bersahabat, antrian masuk pun tidak terlalu panjang. Saya pun masuk ke museum 30 menit lebih cepat, bukan karena niat ingin melihat karya seni tapi lebih ke kebutuhan kehangatan. Pemanas di museum sungguh menggoda dibandingkan tukang jualan poffertjes di taman samping museum. Prosedur masuk museum secara umum seperti biasa, semua barang dititip ke loker, tidak ada makanan, tidak ada kamera.


Friday, July 6, 2018

Karena Green Tea bukan hanya Matcha

Postingan ini sebenernya iseng-iseng aja sih, sejak banyak banget yang menanyakan apa sih bedanya green tea dan matcha. Kenapa saya mesen green tea yang datang hanya teh biasa atau kenapa saya mesen green tea yang datang matcha. Nah, sebelum salah pengertian yuk kita kenali apa saja sih yang dibilang Japanese green tea itu. Kebetulan saat break kampus saya sempet intership di perusahaan teh di Kakegawa, Shizuoka. Saya share ya informasinya.


Japanese green tea atau disebut juga dengan Ocha, berasal dari pohon teh yang seperti kita kenal di Indonesia. Hanya karena perbedaan prosesnya, yang tidak melalui proses roasting (panggang), teh Jepang tetap berwarna hijau sedangkan teh Indonesia pada umumnya berwarna merah atau hitam karena proses roasting tadi. Teh Jepang diproses dengan cara di-steaming (diuap), karena tidak melalui proses roasting, selain warnanya hijau, oksidasinya sedikit, sehingga teh hijau lebih unggul dalam urusan anti oksidan daripada teh yang dipanggang. Proses steaming ini yang akan membedakan jenis-jenis teh hijau. Penghasil terbesar teh di Jepang adalah Perfektur Shizuoka tetapi yang terkenal Uji, Kyoto.


Wednesday, May 16, 2018

Bingung pilih omiyage khas Jepang, Gotochi bisa jadi solusi

 nakatsugawa

Kira-kira kalo ada pertanyaan kapan terakhir mengirim surat atau kartu pos, jawaban kita bisa langsung atau harus mikir dulu ya? Kemudahan berkomunikasi secara elektronik membuat kita melupakan ritual menulis surat ataupun mengirim benda pos lainnya seperti wesel pos, warkat pos dan kartu pos. Tapi tidak dengan masyarakat yang tinggal di Jepang. Seni berkabar menggunakan jasa pos ini masih terus digunakan untuk mengirim surat, mengirim wesel dan kartupos. Kebiasaan mengirim kartupos saat tahun baru juga masih terus mereka lakukan sampai sekarang. Kalo di Indonesia rasanya mengirim SMS sudah cukup saat hari besar tanpa repot mengirimkan kartu dan harus capek-capek ke kantor pos.


Masyarakat Jepang senang mengirimkan kartu pos ke koleganya dengan gambar-gambar yang indah, bahkan dengan kartu-kartu unik.Bahkan tidak jarang mereka membuat sendiri kartu pos, baik manual atau memanfaatkan printer-printer khusus kartu pos di kombini. Bahkan kantor pos pun tidak mau ketinggalan, rajin mengeluarkan seri terbaru setiap musimnya.


Tuesday, April 17, 2018

Pengalaman mengurus pindahan sekolah anak dari Jepang ke Bandung

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu sampai akhirnya saya dan anak-anak harus kembali. Rasanya nggak puas begitu waktu sudah mendekati, rasanya banyak sekali hal yang belum sempat dikerjakan. Selain  itu saat beres-beres dan packing rasanya sangat buru-buru... pokoknya rasanya masih ada yang kurang. Tapi mau nggak mau memang kami harus kembali lagi berkumpul dengan orang-orang tercinta di Bandung.

Hal pertama yang saya lakukan sesampai di Bandung, yaitu mencari sekolah anak-anak. Dan ini jadi pengalaman tersendiri, mengingat saat di Jepang, urusan sekolah anak adalah urusan yang sangat mudah. Berbekal akte kelahiran dan zairyu card (KTP), otomatis anak-anak mendapatkan sekolah yang lokasinya dekat dengan rumah. Dan saat itu juga langsung bisa ikut belajar dengan modal pengantar dari kantor dinas pendidikan setempat. Nah saat kembali ke Indonesia, pengurusan sekolah anak tidak semudah itu tapi juga tidak susah-susah amat asal kita ikut aturan mainnya.

Berikut ini ada beberapa langkah yang harus kita lakukan untuk bisa dan mendapatkan surat penyaluran siswa dari Kemendiknas. Dan langkah ini harus saya mulai saat saya masih berdomisili di Hamamatsu. Jadi pastikan mengurus kepindahan sekolah anak tidak dilakukan "ngedadak", perlu persiapan waktu juga informasi yang tepat.

Langkah pertama adalah meminta surat keterangan dari sekolah dimana anak kita belajar. Mintalah dalam Bahasa Inggris) syukur-syukur bisa dapet yang Bahasa Indonesia). Surat keterangan yang menunjukkan tingkat sekolah anak akan diperlukan untuk membuat surat keterangan pindah di Atase Pendidikan KBRI Tokyo. Jangan lupa, cek kesesuaian nama anak di surat keterangan sekolah, akte kelahiran dan paspor. Semua harus sama jangan ditambahi atau dikurangi.

Kedua, buatlah surat permohonan pindah sekolah ke Atase Pendidikan. Ingat, karena banyaknya permintaan, diharapkan surat permohonan dua minggu sebelum kepulangan sudah diajukan. Selain surat permohonan, jangan lupa masukkan fotokopi surat keterangan sekolah, fotokopi akte kelahiran anak, fotokopi paspor anak dan orangtua, data anak. Bagi yang tinggal jauh dari Tokyo bisa mengirimkan surat melalui pos dan jangan lupa amplop balasan (saya menggunakan leter pack 310 yang telah ditulis alamat pengiriman). Keterangan lebih lanjut bisa dilihat di hompepage  Atase Pendidikan KBRI Tokyo



Monday, October 23, 2017

Kochia, saat semak tidak harus selalu hijau

Berawal dari foto kiriman keponakan yang menanyakan posisi taman nasional Hitachi Seaside di Prefektur Ibaraki, saya langsung becita-cita harus bisa melihat taman ini sebelum saya pulang. Padahal posisi saya sangat jauh dengan taman tersebut. Tapi namanya juga cita-cita jadi saya nyari akal buat nyari transportasi termurah. O iya, karena visa saya bukan turis rjadi saya nggak punya kesempatan buat beli JR Pass atau tourist pass yang harganya lebih murah. Saya harus membayar full seperti warga Jepang lainnya. Juga dengan belanja, saya tidak berhak untuk mendapatkan free tax 8% seperti kawan-kawan yang berkunjung ke Jepang. Jadi kalo harus keluar kota memang harus bener-bener persiapan dan riset meyeluruh ala-mak-mak ekonomis. Setelah dicari-cari tiket termurah, ternyata hanya bus malam JR yang cocok di kantong. Dengan rute Hamamatsu dan tiba di Tokyo pukul 05.40 pagi, perjalanan diteruskan menggunakan kereta menuju Stasiun Katsuta selama 119 menit. Lalu nyambung lagi pake bus seharga 400Y untuk sampe ke taman. Lalu disambut hujan seharian yang bikin basah merana. Hehhehehehe beneran ini perjalanan paling menguras emosi apalagi sempet berantem sama bocah-bocah. Tapi tahukah kawan demi apa saya harus rela menguras tenaga dan batin... demi apa coba..... yuk dilihat kenapa saya ngotot harus kesini.... ya demi ini...


Wednesday, October 18, 2017

Haru Yasumi, Liburan musim semi yang penuh dengan bunga

Musim semi salah satu musim favorit saya, karena suhu mulai menghangat. Udara yang dingin bikin mager maksimal, apalagi harus ngayuh sepeda, rasanya kulit muka jadi super kenceng kena dingin. Kayaknya bukan cuman saya, tapi juga tanaman bergembira dengan datangnya musim semi. Hal ini terbukti dengan dimulainya kegiatan berkebun para ibu-ibu. Di musim ini pula seluruh kegiatan sekolah dan kuliah dimulai. Jadi rasanya nambah semangat masuk ke kampus disambut dengan mekarnya bunga-bunga.


Datangnya musim semi atau disebut dengan Haru selalu ditunggu karena di musim inilah bunga khas Jepang muncul, sakura. Kehadiran sakura setiap kotanya berbeda tergantung suhu terhangat. Biasanya di mulai dari Okinawa terus naek ke Kyushu, Tokyo, dan Hokkaido paling terakhir. Sakura hanya singkat, dua minggu dan gugurnya bisa cepat kalo hujan sering datang. Biasanya TV dan koran akan mengumumkan puncak mekarnya sakura dan orang-orang menantikan karena akan ber-hanami. Hanami sendiri berasal dari kata hana yang berarti bunga dan mi yang berarti melihat. Hanami dilakukan sambil piknik di taman-taman yang penuh dengan bunga sakura. Nah disinilah serunya, karena semua orang ingin menikmati hanami, jadi bakal dipastikan ingin mendapatkan spot terbaik. Jadi kita dulu-duluan ke koen (taman) sambil nyari posisi yang paling PW dengan menandainya sambil menaruh tiker ditempat yang kita inginkan. Dan menjelang makan siang, taman yang biasanya sepi jadi ramai, seramai-ramainya.

Waktu pertamakali hanami saya dan teman-teman sempet salah waktu. Kita pergi ke koen jam 9 pagi dan langsung tancap menyantap sajian yang ada. Terus kita liat sekeliling kok sepi ya, apa kota ini sedikit penduduknya. Ternyata kita kecepetan. Orang-orang datang menjelang makan siang saat amunisi kita sudah habis disingkat. Justru pas saat rame kita udah nggak bisa ngapa-ngapain lagi. Dan, nggak ada warung... jadi kita nyengir-nyengir aja liat orang menikmati santap siang yang keliatannya enak. wkkwkw udah laper lagi soalnya.

Setiap pengunjung bakal mengeluarkan amunisi bento terbaiknya, beberapa orang akan mulai membuka sake. Nah ada kepercayaan bahwa kalo sake kejatuhan kelopak sakura akan beruntung. Heheheh dasar saya kalo denger kata beruntung pasti pengen ada kelanjuntannya... beruntungnya kenapa (sambil ngarep bakal menang lotere) dan kata orang Jepang kamu beruntung karena kejatuhan kelopak sakura. Nggak tiap orang bisa kejatuhan kelopak sakura. Hehehhehe ooooo itu beruntungnya. Padahal saya udah ngarep keberuntungan yang sangat besar dari sekadar kelopak sakura.

Alhamdulillah, hanami tahun ini saya diapelin sama suami, jadi kita bisa menikmati bersama. Kita berhanami sampe ke Hamamatsu flower park, salah satu taman terbesar yang ada disini. Dan saat itu juga tulip bermunculan, jadi pemandangan taman bener-bener indah banget.

Saya ternyata kudet tentang perbungaan. Saya pikir bunga tulip itu hanya ada di Belanda. Bukan apa-apa selama ini saya selalu punya gambaran bunga itu hanya tumbuh di negara kincir angin. Ternyata di Jepang juga ada tulip hehehehhehehe. Dan kata informan saya yang pernah ke kebon tulip di Belanda, tatanan tulip di Jepang lebih "berwarna" daripada di Belanda.


Sayangnya munculnya bunga-bunga berarti banyaknya pula serbuk sari yang berterbangan. Nah, dimusim ini pula biasanya kafun atau alergi serbuk bunga bermunculan. Sampai-sampai di setiap ramalan cuaca akan selalu diberitakan berapa persentase polen hari itu. O iya, laporan cuaca di TV Jepang itu sangat detil, sampe-sampe diinformasikan apakah hari ini cocok untuk jemur pakaian atau tidak heheheheh.  Eh balik lagi ke kafun. Buat yang alergi bukan cuman bersin-bersin tapi juga gatal-gatal di sekitar mata, berairnya mata dan hidung, bahkan sampe ke bengkak. Biasanya toko-toko akan menjual kacamata khusus untuk menghindari serbuk bunga juga dimulainya musim orang bermasker. Bahkan ada yang menjual pakaian yang anti kafun segala.



Tuesday, October 10, 2017

Liburan musim panas terakhir di Hamamatsu

Nggak kerasa kalo saat ini sudah dua natsu (musim panas) terlewati dan rasanya waktu untuk pulang semakin dekat. Jepang mempunyai cuaca empat musim seperti Fuyu (musim dingin), Haru (musim semi), Natsu (musim panas) dan Aki (musim gugur). Semua musim dinikmati dengan caranya tersendiri, ada bermacam matsuri (festival), makanan dan pakaian yang berbeda untuk tiap musimnya. Saat musim panas inilah liburan anak sekolah terpanjang dan kegiatan di luar rumah merupakan kegiatan favorit. Cuman panasnya itu yang suka kebangetan dan pemerintah menghimbau untuk menghemat listrik dengan menyalakan AC manteng di 28 derajat saja. Walhasil kalo udah gini, kipas angin jadi andalan untuk menyejukkan tubuh. Di musim ini pula para toko biasanya membagikan kipas-kipas secara gratis untuk para pengunjungnya, nah kerjaan kita emang bolak-balik masuk toko demi mendapatkan gambar kipas yang berbeda. Selain itu handuk panjang kecil jadi trend semua orang untuk menghapus keringat yang menetes derasnya... gayanya persis sih kayak abang becak tapi gunanya ngurangin lengket badan.

Derajat kepanasan yang ada sangat menyebalkan. Disinilah saya mengerti kenapa minuman semacam ion water sangat banyak dijual, karena memang dehidrasi berat sangat sulit dihindari. Beruntung tahun ini akhir puasa jatuh pada awal Natsu, jadi perjalanan panjang matahari hanya dialami saat akhir saja. Berbeda dengan tahun lalu, kami menjalani puasa full saat musim panas, yang ada siang hari kita cuman bisa tiduran ditemani kipas angin atau berendam air dingin demi mencegah rasa haus. Nah, bagian seger-segernya sih di musim ini ada kakigori dan ramune. Ramune adalah istilah untuk lemonade, nah kenapa jadi ramune...karena dari pengucapan remone- dan akhirnya jadi ramune. Soal rasa ramune sih biasa aja, minuman bersoda, masih kalah sama soda gembira. Kita bahas yang istimewa aja lah, Itu tuh si Kakigori yang nggak ada hubungannya dengan kaki kambing :P.

Kakigori hanya tersedia saat musim panas dan biasanya di kedai-kedai makanan banyak dijual. Kakigori itu sebetulnya es serut yang disirap berbagai sirup rasa-rasa. Favorit saya sih ogura dan matcha kakigori. Dijual di cup-cup dan disantap saat panas ngabelentrang gitu deh. Nah, kakigori yang paling heboh yang pernah saya nikmati itu kakigori di Nunohashi, sebrang SMA Hamakita. Ukurannya jumbo pisan, dan makannya harus cepet kalo nggak itu gunung esnya bakalan rubuh. Kalo dari strukturnya, kakigori punya kelembutan serutan es lebih dari es serut yang ada di Cimahi. Nah enakkan esnya......

Natsu juga identik dengan Hanabi.... inget ya hanabi yang artinya kembang api, berbeda dengan hanami yang artinya melihat bunga (sakura). Biasanya menikmati hanabi dengan piknik makan malam, terus pake yukata (kimono musim panas) dan saatnya nyari pacar hehehhehehhe. Kalo saya sih menikmati tebak-tebakkan bentuk kembang api yang berbeda-beda. Hanabi matsuri pun digelar tiap kota, dan salah satu yang terbesar di Fukuroi, Shizuoka. Kereta akan mengantarkan kita ke TKP, dan stasiun akan sangat penuh karena hampir semua orang ingin menonton hanabi yang diperlombakan juga.


Thursday, August 31, 2017

Ngasuh Bocah di Shinkansen Museum Nagoya

Setiap akhir pergantian musim, Japan Railway selalu mengeluarkan tiket kereta terusan yang harganya terjangkau oleh mahasiswa seperti saya ini. Tiket ini bernama Juhachi-kippu, yang artinya 18 tiket, bisa digunakan siapa saja tidak terbatas usia 18 dan isinya 5 tiket. Satu tiket ini bisa dipake lima orang atau seorang dengan lima tujuan. Sisa satu tiket juhachi-kippu yang saya miliki, diakhiri dengan manis bersama teman kampus dengan tujuan SCMAGLEV & Railway Park, Nagoya.

 photo E2EC8D01-2A64-4B81-93E4-3268633A9F9B_zpsqezr9sjz.jpg



SCMAGLEV & Railway Park adalah museum kereta milik JR (Japan Railway) yang memiliki koleksi kereta cepat mulai dari kereta api, elektrik sampai ke teknologi terkini, yaitu magnetik. SCMAGLEV adalah singkatan dari Super Conducting Magnetic Levitation. Yap bener...seperti foto levitasi yang melayang. Jadi kereta shinkansen magnetic itu rodanya melayang karena gaya magnetik tidak  seperti kereta konvensional menempel pada rel. Itulah sebabnya kereta ini bisa memacu kecepatannya secara maksimal. 


Untuk bisa sampai kesini, kami memulai perjalanan dari Hamamatsu Eki ke Nagoya Eki lalu meneruskan perjalanan dengan menggunakan kereta Aomori line menuju Kinjufuto Eki dengan harga 350Y sekali jalan. Dari Kinjufuto Eki, museum sudah kelihatan bentuk dan rupanya, posisinya bersebrangan dengan Legoland Japan. Harga tiket museum dibandrol untuk dewasa 1000Y, anak-anak 500Y. Jika beruntung, bisa mendapatkan undian untuk ikut simulator shinkansen dan kereta konvensional.



Setelah membeli tiket, memasuki gerbang awal, disuguhi langsung oleh 3 buah kereta legendaris Jepang, yaitu Tsubame C62, Shinkansen 300 dan Shinkansen MLX01-1. Ketiganya merupakan pemegang rekor tercepat dengan tahun dan jenis yang berbeda. Tsubame kereta api/ uap, sedangkan shinkansen menggunakan daya listrik dan magnetik. Kita bisa masuk kedalam kereta-kereta ini dan menikmati interior dalamnya.



Setelah itu kita memasuki ruangan Great Rolling Stock Hall, tempat dimana seluruh koleksi kereta di pamerkan. Untuk kenang-kenangan, kita diperbolehkan berfoto di depan shinkansen dengan tanggal yang telah tersedia. Tadinya sih kita mo gaya biasa-biasanya, cuman si Mbaknya nyuruh eksyen dengan gaya hormat. Hahahahha jadinya ya kayak gini ini nih gaya kita berfoto... Keren pisan yah hihihihihi




Di area ini kita bisa puas melihat kereta luar dalam mulai dari seri kereta klasik sampai shinkansen yang terbaru, bahkan yellow shinkansen aka dr yellow pun ada. Favorit saya adalah kereta shinano, kereta special rapid yang jendela sangat lebar. Paling asik naik kereta ini ke arah Nagano melintasi pegunungan Japan Alps, sungai yang bersih dan danau yang tenang. Mata jadi seger....

Pemerintah Jepang sangat serius dengan transportasi kereta, karena dengan sarana ini dapat menghubungk seluruh daerah baik di kota maupun di pelosok. Selain itu dengan kemampuan menampung penumpang yang sangat banyak, kereta menjadi andalan untuk transportasi massal.


 photo Medieval_zpsrhcgy1xp.jpg









Salah satu ikon menarik disini adalah dr yellow, yang merupakan shinkansen pemeriksa jalur dan rel yang dilalui oleh shinkansen. Dr yellow tidak membawa penumpang, tapi membawa peralatan pemeriksa keselamatan. Kehadirannya yang tidak setiap hari membawa kepercayaan bahwa orang yang melihatnya dalam perjalanan berarti mendapat keberuntungan :)























Selain itu di area koleksi shinkansen juga ada miniatur tiket counter,cara shinkansen bekerja, sampai kursi green car (kelas eksekutif) jadi disini kita bisa mendapatkan pengalaman mulai dari membeli tiket sampai merasakan duduk di kursi nyaman. Karena tidak semua orang Jepang juga berkesempatan naik Shinkansen karena harganya yang bikin merogoh saku dalam pake banget.


Museum ini penataannya keren dengan menggunakan cahaya alami.Jadi kalo kesorean kebayang jadi gelap dan nggak bisa liat koleksi dengan maksimal. Selain itu, museum ini mempunyai diorama stasiun di kota-kota besar jepang yang dilalui oleh shinkansen. Nah buat yang kehausan dan kelaparan jangan khawatir ada cafe, vending machine dan souvenir shop yang bisa dijajaki untuk membeli  omiyage untuk keluarga tercinta di rumah.






















Yuk yang mau mampir sini saya anter.... soalnya beneran saya nggak ada bosennya untuk berkunjung kemari. Atau mau mampir ke sebelahnya, Legoland Jepang juga boleh deh.....

Tuesday, February 28, 2017

Hina Matsuri bukanlah festival yang menghina

 photo 43402EF9-D05E-4216-A3E8-D127BBC7770B_zpsfbrq4zoy.jpgSetiap tanggal 3 Bulan Maret di Jepang diperingati sebagai Hina Matsuri atau terjemahan bebasnya Festival Hina tapi sungguh ini bukan festival yang saling menghina. Kata Hina sendiri berasal dari kata Hina Ningyo (ひな人形) atau boneka perempuan. Dan festival ini dipersembahkan untuk anak perempuan, mendoakan kebahagiaan dan kesehatannya.

Untungnya jadi mahasiswa ya gini deh, kampus selalu mengadakan acara perkenalan budaya dan kita cepet-cepetan daftar kalo mo ikutan. Saya berkesempatan untuk melihat dari dekat pameran boneka hina ini di Kanzanji Temple, Fukuroi. berangkatlah bersama 12 peserta lainnya dan didampingi Sensei. Dengan kereta JR Lokal, kami berangkat dari Stasiun Hamamatsu menuju Stasiun Fukoroi dan selanjutnya bus milik pemda menjemput kita untuk mengantar ke tempat Hina Matsuri. Ini kali kedua saya mampir kesini, sebelumnya saya ikut juga acara Hi Matsuri (Festival Api) Bulan Desember tahun lalu. 

 photo 4AC8CF07-48AD-4F51-8224-838910960977_zpstmdn1egy.jpg
 photo 157ADC89-8BDE-4486-A83D-62FF0B0B8CC7_zpsxeavgemc.jpg


Tuesday, February 21, 2017

Lima teknologi tepat guna saat musim dingin tiba

Tahun ini merupakan tahun kedua saya mengalami musim dingin di Hamamatsu. Perubahan suhu yang berangsur-angsur ke satu digit dan malah ke minus harus dihadapi saya tanpa bisa ditawar lagi. Yang pasti jadinya mager dan ngemil terus... udah kebayang naek sepeda kena angin..brrrrr.

Dulu, seingat saya, gambaran menghadapi salju dan musim dingin yaitu menggunakan pakaian tebal supaya badan tetap hangat. Tapi kalo diperhatikan, penduduk lokal kayaknya nggak terganggu dan beraktifitas biasa aja dengan suhu yang rendah ini. Setelah diselidiki (hahahhah kayak detektif partikelir aja) kok bisa udara dingin gini masih pake celana pendek, ternyata mereka memanfaatkan teknologi yang menurut saya tepat guna dalam menghadapi dingin. Jarang orang Jepang memakai jaket tebal (kecuali di Hokkaido yang memang selalu bersuhu minus) selama fuyu (winter). Dan inilah teknologi yang bikin saya takjub cara mereka menghadapi musim dingin. Saya nggak tau pasti apa di negara yang memiliki musim dingin menjual pula peralatan seperti yang ada di Jepang, Apa aja sih yang bikin mereka selalu nyaman selama musim dingin, yuk dibahas.... Barang-barang ini juga bermanfaat buat teman-teman yang pengen menikmati fuyu (winter) di sini.

1. Pakaian dengan teknologi Heattech
 photo 81B5063D-ACA3-43F4-8300-43943332D99E_zpsz6h5ahw5.jpg
sumber :jpgo1688.pixnet.net
Bukan Jepang kalo nggak ngulik apapun, contohnya produsen pakain Uniqlo menemukan teknologi heattech untuk menghadapi musim dingin. Teknologi ini menahan dan membuat badan tetap hangat dari kelembaban kulit manusia. Terus nggak bikin bau badan lagi walaupun dipakai lebih dari sehari. Bahannya tipis dan ringan tapi hangatnya mungkin lebih dari jaket tebal. Jadi teknologinya kehangatan diciptakan dari badan pemakai produk ini. Makanya jangan heran kalo melihat orang jalan-jalan memakai celana pendek dan stocking nggak kedinginan.... karena beliau-beliau ini memakai produk yang sangat.inovatif ini,  tetap bergaya di musim dingin. Harganya juga nggak terlalu mahal, cuman pilihan model dan warna saja yang terbatas. Pernah suami saya iseng make heattech di Bandung, hasilnya seluruh badannya mandi keringat. Saya belum dapet info apakah di Jakarta sudah tersedia produk ini. Untuk bocoran saja, atasan heattech bisa dibandrol sekitar 790Y. Level kehangatan yang dijual juga beragam, ada heattech, super heattech dan ultraheattech, disesuaikan dengan keinginan pembeli.