Friday, February 26, 2021

Lensa (Cici) Meike

Setiap foto pasti ada hal yang paling menarik dalam proses pembuatannya. Saya sih paling suka tuh liat foto-foto dengan efek bokeh dilatar belakangnya, ada sensasi tersendiri melihatnya. Foto dengan efek bokeh bisa didapatkan dengan menggunakan lensa fix 50mm dengan bukaan yang sangat lebar sekitar 1,7. Kebetulan lensa bawaan kamera saya rasanya kurang bisa memberikan  efek ini secara maksimal. Sebetulnya pilihan saya jatuh pada lensa Canon 50mm yang versi plastik, Sayangnya lensa ini membutuhkan adaptor untuk bisa beraksi di kamera saya, dan adaptor yang saya punya udah lama nggak keliatan entah kemana. Dengan alasan hanya untuk memenuhi hobi saja, saya mencari informasi lensa alternatif yang agak miring harganya dan ternyata sekarang lagi booming lensa Made in China dengan berbagai merek, Berbekal review di youtube dan blog, saya akhirnya meminang lensa Meike 35mm F1/7 APS-C yang setara spek teknisnya dengan lensa Canon 50mm fifty nifty dan berita gembiranya tidak memerlukan adaptor tambahan di kamera saya.

 . 


Tapi sebetulnya sih ada barang ada harga juga. Lensa ini bikin kamera kita jadi dari full auto jadi full manual. Pengaturan kecepatan, ISO, dan bukaan harus diset ke menu M(manual), tentunya juga berlaku dengan fokus. Tombol setengah pencet tidak ada fungsinya lagi karena sistem elektrik tidak jalan. Mau tidak mau kita harus menajamkan mata kita untuk menemukan titik fokus. Persis seperti menggunakan kamera analog jaman dahulu, semua pengaturan harus ada di tangan pengguna. Setidaknya saya jadi dipaksa belajar lagi teknis motret, tapi untuk fokus jadi hal serius karena mata saya sudah "tua" jadi memang harus memotret tidak terburu-buru. dan belajar lagi sabar untuk bisa mendapatkan hasil foto yang indah.  

Tapi secara keseluruhan sih lensa ini buat saya yang cuman entusias fotografi dan tidak paham teknis menyatakan bahwa lensa ini mumpuni untuk mengeksplore banyak hal yang terlewati selama menggunakan kamera full auto. Kata beberapa orang, hasil foto dari lensa ini terlalu tebal vignettenya (dan lagi-lagi saya nggak bisa lihat perbedaannya). Tapi, secara keseluruhan sih lensa meike ini mempunyai kelebihan : murah, berbahan besi, ekonomis, hasil mumpuni (untuk saya yang nggak bisa bedain lensa bagus dan mahal ya) dan kekurangannya seperti: berat, manual focus, ada vinette (kata yang bisa bedain)


Nah penasaran nggak hasil foto pake lensa meike seperti apa hasilnya…. Hmmm saya juga kaget sendiri sih, ternyata nggak mengecewakan dan nggak kalah sama kamera nifty fiftynya canon. Beberapa foto saya ambil semua pake meike 50mm. Layaklah dicoba untuk murid sekolah (selamanya) motret seperti saya.





Saturday, January 30, 2021

Camera, action!

Semoga bukan hal yang aneh mancing semangat nulis dengan membahas kamera, benda yang paling setia merekam perjalanan suka, duka, tobat, dan ngaco. Iya, saya nggak bisa membahas komputer, aplikasi ataupun alat bantu tulis lainnya karena saya gaptek dan tool yang itu bukan hal yang saya kuasai juga sih.

Nah berbicara tentang kamera pegangan saya, Canon M3, kamera mirrorless yang cukup berumur tapi masih bekerja dengan baik dan menurut salah satu youtuber yang mereviewnya, kamera ini masih layak untuk dipake ngevlog. Beratnya yang ringan dan bentuknya yang simpel jadi pertimbangan. Kekurangannya hanya satu, batere yang kecil dan cepat habis mengharuskan siaga "ngecas" setiap selesai dipakai. Belum ada rencana untuk mengganti kamera yang saya dapatkan dari toko loak di Hamamatsu karena rasanya teknologi kamera terbaru belum banyak berubah. Dan masih banyak fitur yang ada juga saya belum khatam.  

Beberapa teman fotografer sih berpendapat lebih baik investasi di lensa daripada bodi, karena lensa akan menentukan hasil dari jepretan kita.Semakin bagus lensa (dan semakin mahal) akan semakin bersih dan jernih hasil fotonya. Karena saya cuman level penggembira, saya memutuskan untuk membeli lensa yang sesuai dengan kantong saya. Lagian lensa mahal akan terlihat jika kita berniat mencetak foto segede pintu, kalo untuk update instagram mah cukuplah lensa-lensa entry level. Dan lagi-lagi toko loak menolong saya memenuhi kebutuhan 3 lensa canon seri M yang saya butuhkan, yaitu lensa wide, tele dan kit. Masing-masing lensa cukup menurut saya untuk mewakili keperluan dan kepentingannya (padahal nanti saya nyesel dikit kenapa nggak beli lensa ini kenapa nggak yang itu). Untuk lensa kit, penjual sih wanti-wanti ada kerusakan di motornya jadi suka nggak fokus, tapi Alhamdulilah sih sampe sekarang masih bekerja dengan baik semua lensa itu. 


Ada satu lensa yang saya pengen sih, the legend nifty fifty lensa 50 mm Canon. Sesuai dengan namanya, lensa ini body plastik tapi hasil bokehnya mumpuni. Nah, sayangnya lensa ini membutuhkan adaptor di kamera mirrorless, punya saya entah raib kemana si adaptor teh. Niatnya nyari adaptor sempalan buat canon malah nggak sengaja liat di google ternyata lagi rame lensa Cina buat mirrorless tanpa harus beli adaptor lagi. Setelah puas ngapalin review para youtuber akhirnya saya putuskan buat meminang satu lensa merek Meike. Jadi lensa ini semakin melengkapi koleksi lensa yang ada. Cerita lensa Meike van China nanti ya, kan lumayan buat ide postingan berikutnya hihihihi.


Jadi selama beberapa waktu ini saya berusaha untuk belajar motret lagi, khususnya indoor, sampe rela ngikutin beberapa kelas motret, mulai dari yang basic sampe yang agak pro. Banyak ilmu yang saya dapatkan dari kelas-kelas ini mulai dari teknis sampai dengan komposisinya. Karena nggak kemana-mana, jadi objek saya biasanya yang deket-deket dan korbanya kalo nggak makanan, langit dan bunga. Untuk indoor saya akui sampai sekarang ilmu saya masih sangat jauh belum berkembang dibandingkan outdoor. Outdoor itu buat saya enak karena nggak usah lagi menyusun objek, indoor agak riweuh dengan preparasi dan menyusun objek dan masuknya cahaya supaya enak dipandang mata. Pada akhirnya, menurut kawan saya, semua foto itu bagus, tapi kalo foto keren itu masalah rasa aja sih.

Nah, ngomongin kamera dan foto itu jadi bahan asyik juga untuk memulai postingan disini.Yang jelas keduanya sama kudu ada aksi, sekali lagi aksi. Seperti para sutradara yang meneriakkan, "Camera, action..."! Semoga aksi posting saya kali ini akan terus berlanjut, karena hanya dengan posting di blog ini akan hidup ya. Terimakasih loh udah mau mampir dan meluangkan waktu untuk membaca disini, semoga kita berjumpa di postingan berikutnya ya..



Tuesday, April 21, 2020

karena saya menolak jadi blogger veteran...

Halo blog, halo semua, akhirnya jari ini mengetikkan kata-kata juga disini. Entah berapa lama nggak pernah update ataupun bercerita ngalor ngidul. Sebenernya malu juga sih, soalnya punya ambisi pengen jadi blogger yang produktif tapi apa daya kemalasan merajai... (pangkal dari inkonsistensi, nggak ada ide, nggak mood, dan segudang alasan lainnya). Pastinya  ada yang pernah ngerasain gini nggak saya aja ya... (ngarep 'ada' nyari temen sepemalasan).

Tapi sebetulnya selain males ada juga sih yang bikin males ngeblog hehehehe. Akhir-akhir ini ngerasa nggak nyambung aja kalo ngeblog dengan gaya yang dianut selama ini. Maklum, beta termasuk blogger vintage yang merasa banyak ketinggalan. ngerasa selera pasar blog sekarang udah bergeser ke platform media sosial lainnya. Selain itu ngerasa nggak ngejar para blogger millennial yang para super kreatif dengan skill yang nggak pernah kepikiran. Tapi kalo nggak mau nyari tau bisa jadi menyandang predikat blogger veteran yang nggak bakal diketahui siapapun. Satu hal yang saya sadari jika saya nggak mulai belajar dan merhatiin lagi dunia blog bakalan almarhum ini blog... dan saya nggak mau tahlilan cepet-cepet karena kelalaian saya ini. So, dengan keberanian menghindari komanya blog ini, saya curhat di grup KEB Bandung. 


Monday, February 18, 2019

Vincent van Gogh, just my simple thought.

Sebagai pembukaan, saya cuman ingin mengingatkan bahwa saya bukan seorang yang mengerti tentang arti seni, terutama lukisan dan teman-temannya, apalagi mengomentari hasil karya seni seseorang. Saya pun mengenal karya van Gogh hanya sebatas lukisan yang paling terkenal (oleh siapapun) "Sunflower" alias bunga matahari yang saya kenali dari kartu ulangtahun dari mantan pacar. Jadi apapun yang saya tulis dibawah ini hanya pengamatan seorang awam yang baru melihat secuil perjalanan van Gogh dari museumnya.





Petualangan ke Museum van Gogh terjadi sebetulnya karena sudah beberapa hari saya mengelilingi Amsterdam, serta hari yang diselimuti udara dingin plus hujan tapi saya ogah rugi kalo berada dalam rumah. Pilihan jatuh ke sini karena saya lebih buta lagi dengan muse
um lainnya (padahal ada Rembrandst dan Rijk). Bayangan saya akan lukisan kuning cerah bunga matahari membuat nilai plus  Museum van Gogh (dimata saya ya) layak dikunjungi oleh saya.

Tiket seharga 18 euro saya peroleh secara online karena memang tidak ada penjualan secara offline. Karena cuaca yang tidak bersahabat, antrian masuk pun tidak terlalu panjang. Saya pun masuk ke museum 30 menit lebih cepat, bukan karena niat ingin melihat karya seni tapi lebih ke kebutuhan kehangatan. Pemanas di museum sungguh menggoda dibandingkan tukang jualan poffertjes di taman samping museum. Prosedur masuk museum secara umum seperti biasa, semua barang dititip ke loker, tidak ada makanan, tidak ada kamera.


Friday, July 6, 2018

Karena Green Tea bukan hanya Matcha

Postingan ini sebenernya iseng-iseng aja sih, sejak banyak banget yang menanyakan apa sih bedanya green tea dan matcha. Kenapa saya mesen green tea yang datang hanya teh biasa atau kenapa saya mesen green tea yang datang matcha. Nah, sebelum salah pengertian yuk kita kenali apa saja sih yang dibilang Japanese green tea itu. Kebetulan saat break kampus saya sempet intership di perusahaan teh di Kakegawa, Shizuoka. Saya share ya informasinya.


Japanese green tea atau disebut juga dengan Ocha, berasal dari pohon teh yang seperti kita kenal di Indonesia. Hanya karena perbedaan prosesnya, yang tidak melalui proses roasting (panggang), teh Jepang tetap berwarna hijau sedangkan teh Indonesia pada umumnya berwarna merah atau hitam karena proses roasting tadi. Teh Jepang diproses dengan cara di-steaming (diuap), karena tidak melalui proses roasting, selain warnanya hijau, oksidasinya sedikit, sehingga teh hijau lebih unggul dalam urusan anti oksidan daripada teh yang dipanggang. Proses steaming ini yang akan membedakan jenis-jenis teh hijau. Penghasil terbesar teh di Jepang adalah Perfektur Shizuoka tetapi yang terkenal Uji, Kyoto.


Wednesday, May 16, 2018

Bingung pilih omiyage khas Jepang, Gotochi bisa jadi solusi

 nakatsugawa

Kira-kira kalo ada pertanyaan kapan terakhir mengirim surat atau kartu pos, jawaban kita bisa langsung atau harus mikir dulu ya? Kemudahan berkomunikasi secara elektronik membuat kita melupakan ritual menulis surat ataupun mengirim benda pos lainnya seperti wesel pos, warkat pos dan kartu pos. Tapi tidak dengan masyarakat yang tinggal di Jepang. Seni berkabar menggunakan jasa pos ini masih terus digunakan untuk mengirim surat, mengirim wesel dan kartupos. Kebiasaan mengirim kartupos saat tahun baru juga masih terus mereka lakukan sampai sekarang. Kalo di Indonesia rasanya mengirim SMS sudah cukup saat hari besar tanpa repot mengirimkan kartu dan harus capek-capek ke kantor pos.


Masyarakat Jepang senang mengirimkan kartu pos ke koleganya dengan gambar-gambar yang indah, bahkan dengan kartu-kartu unik.Bahkan tidak jarang mereka membuat sendiri kartu pos, baik manual atau memanfaatkan printer-printer khusus kartu pos di kombini. Bahkan kantor pos pun tidak mau ketinggalan, rajin mengeluarkan seri terbaru setiap musimnya.


Tuesday, April 17, 2018

Pengalaman mengurus pindahan sekolah anak dari Jepang ke Bandung

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu sampai akhirnya saya dan anak-anak harus kembali. Rasanya nggak puas begitu waktu sudah mendekati, rasanya banyak sekali hal yang belum sempat dikerjakan. Selain  itu saat beres-beres dan packing rasanya sangat buru-buru... pokoknya rasanya masih ada yang kurang. Tapi mau nggak mau memang kami harus kembali lagi berkumpul dengan orang-orang tercinta di Bandung.

Hal pertama yang saya lakukan sesampai di Bandung, yaitu mencari sekolah anak-anak. Dan ini jadi pengalaman tersendiri, mengingat saat di Jepang, urusan sekolah anak adalah urusan yang sangat mudah. Berbekal akte kelahiran dan zairyu card (KTP), otomatis anak-anak mendapatkan sekolah yang lokasinya dekat dengan rumah. Dan saat itu juga langsung bisa ikut belajar dengan modal pengantar dari kantor dinas pendidikan setempat. Nah saat kembali ke Indonesia, pengurusan sekolah anak tidak semudah itu tapi juga tidak susah-susah amat asal kita ikut aturan mainnya.

Berikut ini ada beberapa langkah yang harus kita lakukan untuk bisa dan mendapatkan surat penyaluran siswa dari Kemendiknas. Dan langkah ini harus saya mulai saat saya masih berdomisili di Hamamatsu. Jadi pastikan mengurus kepindahan sekolah anak tidak dilakukan "ngedadak", perlu persiapan waktu juga informasi yang tepat.

Langkah pertama adalah meminta surat keterangan dari sekolah dimana anak kita belajar. Mintalah dalam Bahasa Inggris) syukur-syukur bisa dapet yang Bahasa Indonesia). Surat keterangan yang menunjukkan tingkat sekolah anak akan diperlukan untuk membuat surat keterangan pindah di Atase Pendidikan KBRI Tokyo. Jangan lupa, cek kesesuaian nama anak di surat keterangan sekolah, akte kelahiran dan paspor. Semua harus sama jangan ditambahi atau dikurangi.

Kedua, buatlah surat permohonan pindah sekolah ke Atase Pendidikan. Ingat, karena banyaknya permintaan, diharapkan surat permohonan dua minggu sebelum kepulangan sudah diajukan. Selain surat permohonan, jangan lupa masukkan fotokopi surat keterangan sekolah, fotokopi akte kelahiran anak, fotokopi paspor anak dan orangtua, data anak. Bagi yang tinggal jauh dari Tokyo bisa mengirimkan surat melalui pos dan jangan lupa amplop balasan (saya menggunakan leter pack 310 yang telah ditulis alamat pengiriman). Keterangan lebih lanjut bisa dilihat di hompepage  Atase Pendidikan KBRI Tokyo



Monday, October 23, 2017

Kochia, saat semak tidak harus selalu hijau

Berawal dari foto kiriman keponakan yang menanyakan posisi taman nasional Hitachi Seaside di Prefektur Ibaraki, saya langsung becita-cita harus bisa melihat taman ini sebelum saya pulang. Padahal posisi saya sangat jauh dengan taman tersebut. Tapi namanya juga cita-cita jadi saya nyari akal buat nyari transportasi termurah. O iya, karena visa saya bukan turis rjadi saya nggak punya kesempatan buat beli JR Pass atau tourist pass yang harganya lebih murah. Saya harus membayar full seperti warga Jepang lainnya. Juga dengan belanja, saya tidak berhak untuk mendapatkan free tax 8% seperti kawan-kawan yang berkunjung ke Jepang. Jadi kalo harus keluar kota memang harus bener-bener persiapan dan riset meyeluruh ala-mak-mak ekonomis. Setelah dicari-cari tiket termurah, ternyata hanya bus malam JR yang cocok di kantong. Dengan rute Hamamatsu dan tiba di Tokyo pukul 05.40 pagi, perjalanan diteruskan menggunakan kereta menuju Stasiun Katsuta selama 119 menit. Lalu nyambung lagi pake bus seharga 400Y untuk sampe ke taman. Lalu disambut hujan seharian yang bikin basah merana. Hehhehehehe beneran ini perjalanan paling menguras emosi apalagi sempet berantem sama bocah-bocah. Tapi tahukah kawan demi apa saya harus rela menguras tenaga dan batin... demi apa coba..... yuk dilihat kenapa saya ngotot harus kesini.... ya demi ini...


Wednesday, October 18, 2017

Haru Yasumi, Liburan musim semi yang penuh dengan bunga

Musim semi salah satu musim favorit saya, karena suhu mulai menghangat. Udara yang dingin bikin mager maksimal, apalagi harus ngayuh sepeda, rasanya kulit muka jadi super kenceng kena dingin. Kayaknya bukan cuman saya, tapi juga tanaman bergembira dengan datangnya musim semi. Hal ini terbukti dengan dimulainya kegiatan berkebun para ibu-ibu. Di musim ini pula seluruh kegiatan sekolah dan kuliah dimulai. Jadi rasanya nambah semangat masuk ke kampus disambut dengan mekarnya bunga-bunga.


Datangnya musim semi atau disebut dengan Haru selalu ditunggu karena di musim inilah bunga khas Jepang muncul, sakura. Kehadiran sakura setiap kotanya berbeda tergantung suhu terhangat. Biasanya di mulai dari Okinawa terus naek ke Kyushu, Tokyo, dan Hokkaido paling terakhir. Sakura hanya singkat, dua minggu dan gugurnya bisa cepat kalo hujan sering datang. Biasanya TV dan koran akan mengumumkan puncak mekarnya sakura dan orang-orang menantikan karena akan ber-hanami. Hanami sendiri berasal dari kata hana yang berarti bunga dan mi yang berarti melihat. Hanami dilakukan sambil piknik di taman-taman yang penuh dengan bunga sakura. Nah disinilah serunya, karena semua orang ingin menikmati hanami, jadi bakal dipastikan ingin mendapatkan spot terbaik. Jadi kita dulu-duluan ke koen (taman) sambil nyari posisi yang paling PW dengan menandainya sambil menaruh tiker ditempat yang kita inginkan. Dan menjelang makan siang, taman yang biasanya sepi jadi ramai, seramai-ramainya.

Waktu pertamakali hanami saya dan teman-teman sempet salah waktu. Kita pergi ke koen jam 9 pagi dan langsung tancap menyantap sajian yang ada. Terus kita liat sekeliling kok sepi ya, apa kota ini sedikit penduduknya. Ternyata kita kecepetan. Orang-orang datang menjelang makan siang saat amunisi kita sudah habis disingkat. Justru pas saat rame kita udah nggak bisa ngapa-ngapain lagi. Dan, nggak ada warung... jadi kita nyengir-nyengir aja liat orang menikmati santap siang yang keliatannya enak. wkkwkw udah laper lagi soalnya.

Setiap pengunjung bakal mengeluarkan amunisi bento terbaiknya, beberapa orang akan mulai membuka sake. Nah ada kepercayaan bahwa kalo sake kejatuhan kelopak sakura akan beruntung. Heheheh dasar saya kalo denger kata beruntung pasti pengen ada kelanjuntannya... beruntungnya kenapa (sambil ngarep bakal menang lotere) dan kata orang Jepang kamu beruntung karena kejatuhan kelopak sakura. Nggak tiap orang bisa kejatuhan kelopak sakura. Hehehhehe ooooo itu beruntungnya. Padahal saya udah ngarep keberuntungan yang sangat besar dari sekadar kelopak sakura.

Alhamdulillah, hanami tahun ini saya diapelin sama suami, jadi kita bisa menikmati bersama. Kita berhanami sampe ke Hamamatsu flower park, salah satu taman terbesar yang ada disini. Dan saat itu juga tulip bermunculan, jadi pemandangan taman bener-bener indah banget.

Saya ternyata kudet tentang perbungaan. Saya pikir bunga tulip itu hanya ada di Belanda. Bukan apa-apa selama ini saya selalu punya gambaran bunga itu hanya tumbuh di negara kincir angin. Ternyata di Jepang juga ada tulip hehehehhehehe. Dan kata informan saya yang pernah ke kebon tulip di Belanda, tatanan tulip di Jepang lebih "berwarna" daripada di Belanda.


Sayangnya munculnya bunga-bunga berarti banyaknya pula serbuk sari yang berterbangan. Nah, dimusim ini pula biasanya kafun atau alergi serbuk bunga bermunculan. Sampai-sampai di setiap ramalan cuaca akan selalu diberitakan berapa persentase polen hari itu. O iya, laporan cuaca di TV Jepang itu sangat detil, sampe-sampe diinformasikan apakah hari ini cocok untuk jemur pakaian atau tidak heheheheh.  Eh balik lagi ke kafun. Buat yang alergi bukan cuman bersin-bersin tapi juga gatal-gatal di sekitar mata, berairnya mata dan hidung, bahkan sampe ke bengkak. Biasanya toko-toko akan menjual kacamata khusus untuk menghindari serbuk bunga juga dimulainya musim orang bermasker. Bahkan ada yang menjual pakaian yang anti kafun segala.



Tuesday, October 10, 2017

Liburan musim panas terakhir di Hamamatsu

Nggak kerasa kalo saat ini sudah dua natsu (musim panas) terlewati dan rasanya waktu untuk pulang semakin dekat. Jepang mempunyai cuaca empat musim seperti Fuyu (musim dingin), Haru (musim semi), Natsu (musim panas) dan Aki (musim gugur). Semua musim dinikmati dengan caranya tersendiri, ada bermacam matsuri (festival), makanan dan pakaian yang berbeda untuk tiap musimnya. Saat musim panas inilah liburan anak sekolah terpanjang dan kegiatan di luar rumah merupakan kegiatan favorit. Cuman panasnya itu yang suka kebangetan dan pemerintah menghimbau untuk menghemat listrik dengan menyalakan AC manteng di 28 derajat saja. Walhasil kalo udah gini, kipas angin jadi andalan untuk menyejukkan tubuh. Di musim ini pula para toko biasanya membagikan kipas-kipas secara gratis untuk para pengunjungnya, nah kerjaan kita emang bolak-balik masuk toko demi mendapatkan gambar kipas yang berbeda. Selain itu handuk panjang kecil jadi trend semua orang untuk menghapus keringat yang menetes derasnya... gayanya persis sih kayak abang becak tapi gunanya ngurangin lengket badan.

Derajat kepanasan yang ada sangat menyebalkan. Disinilah saya mengerti kenapa minuman semacam ion water sangat banyak dijual, karena memang dehidrasi berat sangat sulit dihindari. Beruntung tahun ini akhir puasa jatuh pada awal Natsu, jadi perjalanan panjang matahari hanya dialami saat akhir saja. Berbeda dengan tahun lalu, kami menjalani puasa full saat musim panas, yang ada siang hari kita cuman bisa tiduran ditemani kipas angin atau berendam air dingin demi mencegah rasa haus. Nah, bagian seger-segernya sih di musim ini ada kakigori dan ramune. Ramune adalah istilah untuk lemonade, nah kenapa jadi ramune...karena dari pengucapan remone- dan akhirnya jadi ramune. Soal rasa ramune sih biasa aja, minuman bersoda, masih kalah sama soda gembira. Kita bahas yang istimewa aja lah, Itu tuh si Kakigori yang nggak ada hubungannya dengan kaki kambing :P.

Kakigori hanya tersedia saat musim panas dan biasanya di kedai-kedai makanan banyak dijual. Kakigori itu sebetulnya es serut yang disirap berbagai sirup rasa-rasa. Favorit saya sih ogura dan matcha kakigori. Dijual di cup-cup dan disantap saat panas ngabelentrang gitu deh. Nah, kakigori yang paling heboh yang pernah saya nikmati itu kakigori di Nunohashi, sebrang SMA Hamakita. Ukurannya jumbo pisan, dan makannya harus cepet kalo nggak itu gunung esnya bakalan rubuh. Kalo dari strukturnya, kakigori punya kelembutan serutan es lebih dari es serut yang ada di Cimahi. Nah enakkan esnya......

Natsu juga identik dengan Hanabi.... inget ya hanabi yang artinya kembang api, berbeda dengan hanami yang artinya melihat bunga (sakura). Biasanya menikmati hanabi dengan piknik makan malam, terus pake yukata (kimono musim panas) dan saatnya nyari pacar hehehhehehhe. Kalo saya sih menikmati tebak-tebakkan bentuk kembang api yang berbeda-beda. Hanabi matsuri pun digelar tiap kota, dan salah satu yang terbesar di Fukuroi, Shizuoka. Kereta akan mengantarkan kita ke TKP, dan stasiun akan sangat penuh karena hampir semua orang ingin menonton hanabi yang diperlombakan juga.