Showing posts with label japan. Show all posts
Showing posts with label japan. Show all posts

Wednesday, January 25, 2017

Sake, the soul of Japanese

Tidak salah jika menempatkan sake menjadi soulnya orang Jepang, karena dalam setiap kesempatan, setiap waktu selalu sang sake datang menemani, baik dalam suka maupun duka. Bahkan ada kebiasaan bonenkai dan nomikai, yaitu budaya minum bersama sesama anggota keluarga, kantor maupun komunitas. Sake menjadi salah satu hal penting dalam kehidupan di Jepang.

 photo 19A6EF90-63B7-4132-8578-92A7EB618FD3_zpsnu3rkdsx.jpg

Istilah sake juga merujuk pada minuman alkohol non Jepang seperti bir, wiski, dll. Untuk produk Jepang dikenal dengan sebutan Nihon Shou. Nihon Shou berbahan dasar beras khusus yang nantinya akan diproses dan fermentasi. Mirip dengan pembuatan tape ketan hitam di Indonesia. Seluruh prosesnya sama, hanya untuk sake ditambah penambaan proses pengepulan alkohol sebagai hasil utama. 


  photo 81BDB4A2-B9D3-4B3E-A2A5-289E49CC3824_zps0ha8zjcj.jpg


Tuesday, December 10, 2013

Anda pelit, stamina dan waktu terbuang dengan cepat di sini

Masih ingat kata-kata mutiara bahwa Jepang itu mahal, terutama untuk transportnya. Sepertinya saya termakan oleh kata-kata ajaib itu. Saya rasa saya melakukan kesalahan fatal dalam membeli tiket kereta. Sejak awal pergi, saya  memutuskan untuk tidak membeli tiket JR Pass karena harganya yang mendekati 3 juta rupiah (mendekati tiket airasia bandung-osaka hehehhehe) dan saya kurang dari seminggu melancong disini, rasanya memang kurang efektif. Tapi penasaran juga sih kayak apa kalo naek kereta cepat Shinkansen itu?

 photo 8e9a6fcb-fdcd-4f9b-965b-990dd3545aba_zpsf158c9dc.jpg

Setelah baca buku dan blog sana-sini, saya memutuskan hanya membeli JR Kansai, pertimbangannya karena untuk kereta pulang nanti dari Kyoto ke Bandara Kansai, Osaka. Trus karena 2 hari terakhir saya akan mengelilingi daerah-daerah Kansai, lumayan bisa merasakan Shinkansen walaupun hanya 15 menit. Untuk transportasi dalam kota, diputuskan untuk membeli daypass saja . Nah, disini saya terlalu perhitungan. Tokyo memiliki sistem kereta api bawah tanah yang terintegrasi. Perusahaan kereta ada beberapa, JR milik pemerintah dan 2 line milik swasta. Tiket kereta pun berbeda-beda tergantung line mana yang akan dipakai. Nah, saya pengen ngirit waktu membeli tiket, karena saya pikir sudah mencukupi area yang saya kunjungi. Tiket seharga 700 yen bisa menggunakan Toei Line seharian, padahal kalo mau nambah 300 yen lagi, bisa memakai metro line. Tau apa akibatnya karena terlalu pelit untuk bayar 300 yen???????


Saya tidak bisa mengakses banyak stasiun bawah tanah di Tokyo. Dan saya harus keluar dari suatu stasiun untuk menemukan pintu yang sesuai dengan tiket saya. Dan sialnya lagi, tidak semua stasiun memiliki pintu keluar dengan eskalator dan lift. Kebayang kan harus naik 8 tingkat tanpa bantuan eskalator. Gempor...! Belum lagi harus nyasar-nyasar karena salah menemukan pintu masuk. Waktu dan tenaga sudah banyak terbuang percuma hari ini. (gara-gara pengen ngirit 300 yen, nasib). Sampe akhirnya kita ke Tokyo Station karena disini semua kereta bermuara. Station ini merupakan tempat tersibuk di Jepang karena seluruh line dan juga Shinkansen ada disini. Sekali lagi, jangan harap bisa menemukan bangku untuk duduk beristirahat. Semua orang bergegas untuk melanjutkan perjalanannya.

 photo 605421a8-bdae-4930-b657-11a2369e64e8_zps778e7933.jpg

Musim gugur dan musim dingin memang hanya menyisakan waktu terang yang relatif lebih sedikit dibanding dengan musim lainnya. Jadi jangan heran jika jam menunjukkan waktu 5 sore tapi diluar sana kelihatan sudah melewati waktu Isya. Apalagi, awan gelap pembawa hujan kerap sekali muncul, menambah suasana temaram yang buat saya nggak nyaman untuk berjalan-jalan. Ada rasa yang berbeda saat melakukan perjalanan saat terang dan gelap. Biasanya, otak saya jadi kram dan sedikit tulalit kalo dikasih malam.

 photo 718ad497-8718-4a65-b423-c84cb3cad92b_zpsa8f33e54.jpg

Untuk mengantisipasi sore yang berasa malam, biasanya sih banyak lampu-lampu dipasang. Terutama di pohon-pohon yang meranggas karena memang waktunya mereka menggugurkan daun-daun untuk hibernasi dimusim selanjutnya. Setelah melihat-lihat daerah sekitar, kita berencana untuk mencari Shibuya dan Patung Hachiko. Saya pengen menikmati sensasi The Fast and Furious, Tokyo drift dan juga film Hachiko yang diperankan oleh Richard Gere. Nah, karena kesalahan kecil yang fatal tadi (gara-gara pengen ngirit), akhirnya kedua tempat itu tidak bisa ditemukan karena stasiun hanya terlewati bukan tempat berhenti. Apalagi pake perasaan bahwa tempat itu ada diatas kita, akhirnya, nyasar.com selama beberapa jam. Sempet nanya ke Koban (polisi) dan ditunjukkan petanya. Hasilnya.... jauh pisan dan kayaknya nggak sanggup lagi untuk berjalan ke dua tempat itu. Kita memutuskan untuk kembali ke penginapan aja.

 photo 1a84c487-e215-4a34-89bd-7e4c24bd7f51_zpsa4f6c0fd.jpg

Sebelum sampai kembali ke penginapan, tiba-tiba terlintas tulisan Stasiun Akihabara.... tuing.... entah ide darimana tiba-tiba dapet enerji untuk naik keatas buat liat Akihabara yang beken dengan barang elektronik dan jadi "Mecca" untuk para gamers. Selain itu, supaya besok kalo mo kesini udah tau rutenya hehehhehehe

Tuesday, December 3, 2013

Osaka, my first step to Japan

Dengan tekad dan pengetatan ikat pinggang kurang lebih setahun, akhirnya kaki ini menginjakkan juga negara matahari terbit alias Jepang. Sebetulnya rasa hepinya sih udah duluan pas dapet visa dan ijin dari kantor, tapi kalo pas nyampe Kansai Airport rasa hepinya ditambah pisan hehehhehehe, segala rasa capai selama perjalanan 7 jam langsung hilang seketika ketika melewati pintu imigrasi.

Cuaca di Jepang saat itu mulai memasuki musim gugur, jadi tidak panas dan tidak membeku, sekitar 19 derajat celcius, seperti udara di Pangalengan atau Lembang. Kali ini saya nggak akan posting tentang "how to" selama menjelajahi negeri Toyota ini, karena blog lain sudah sangat lengkap dan rinci untuk pengaturan itinerary dkk. Saya cuman pengen berbagi bahwa menjelajah Jepang itu sangat sangat menyenangkan, mudah dan terjangkau seperti wisata ke negara-negara lainnya.

 photo c91246b9-4f76-47c6-a17d-3aea0dd2bb6e_zpsd15e19e8.jpg

Karena mendarat di Kansai Airport, kota pertama yang kita ubek itu adalah Osaka. Untuk menikmati kota ini kita membeli Osaka Unlimited Pass, yaitu kartu subway merangkap kupon tempat wisata yang ada di kota ini. Kalo menurut hitungan sih, jauh lebih murah karena kita tidak usah mengeluarkan lagi uang untuk masuk ke daerah turis plus transport sudah termasuk. Untuk memperingan bawaan, kita menyewa loker yang "pabalatak" di seluruh station di Osaka. Karena langsung dari Bandara, bisa dipastikan hari ini kita tidak mandi karena ogah merogoh kocek untuk bayar kamar mandi hehehhehehe, nggak apa-apa deh, udah bawa tisu basah yang gambar bayi montok dan kita pake untuk mengelap sekujur tubuh supaya si burket hilang......

Perjalanan pagi ini dimulai dengan mengelilingi Osaka Castle. Berhubung lapar, akhirnya kita memutuskan untuk sarapan roti dan green tea yang kita beli di Combini (convienient Store) Lawson. Otak saya masih sangat Cimahi banget ketika meminum green tea. Saya pikir karena di negara asal, pastilah si greentea akan terasa enak...nggak taunya pada saat tegukan pertama saya cuman mendapatkan rasa greentea asli...... tanpa gula. Hehehehhehehhehe pait euy... kirain teh bakal seperti rasa greentea yang ada diiklan-iklan tipi...

 photo c8017f75-68da-4d28-bd10-d9a42d1175f1_zps1d31eb64.jpg

Osaka Castle lumayan sangat besar, apalagi dengan tamannya yang sangat asri. Kekuatan fisik sangat dibutuhkan untuk menjelajahi si kastil kuno ini karena memang dia menyediakan servis apa adanya tanpa ditambah atribut modern. Semua tangga manual, alias harus didaki dengan dengkul dan tangganya buanyyyaakkkk pisan.... ronde pertama aja udah terasa mo gempor..... rasanya pengen ganti dengkul titanium yeuh


 photo d5faa452-fdfe-48c6-850f-d9014607aa6c_zps5fc507c9.jpg

Walaupun menurut kalender sudah memasuki musim gugur, tetapi di Osaka daun-daun belum menunjukkan perubahan berarti. Seperti daun momiji alias japanese maple leaf (tapi mirip daun singkong yah) masih dominan hijau dibandingkan warna merahnya. Sepertinya saya terlalu cepat hadir disini untuk bisa menikmati momiji leaves. Yah, nggak apa-apa deh walaupun premature.... Ngarep di tempat lain udah mulai berubah warna. Hehehhehe saya sangat sentimentil dengan musim gugur, ada rasa "melow" saat melewati musim ini. Terkadang saya setuju dengan dengan lirik lagu lawas "Autumn Leaves" atau bahasa perancisnya Les feuilles mortes yang artinya daun mati, yang isinya memang menggambarkan kesedihan hati...wowoowowo cheesy banget ya.

 photo 3e262fe5-a7f7-4163-a86a-ee355ebe890a_zps9254afe4.jpg
Lepas dari kesedihan daun berguguran, mata saya langsung terhibur dengan adanya taman-taman mini yang sangat menakjubkan. Nggak percaya? tuh...liat aja bonsai pohon apel... menghibur kan dan pasti berdecak kagum. Pohon yang tingginya nggak lebih dari sedengkul saya punya pohon apel yang sangat menggoda. Serius.... kalo nggak ada yang liat udah tak petik tuh buah.... hiks..... nanti aku dikutuk seperti Adam dan Hawa ya kalo berani metik buah apel merah merona..... bisa-bisa jadi tragedi buah apel deh....
Selain apel, masih ada bonsai pohon buah-buahan lainnya, seperti cherry dan plum.... makin gatel kan tangannya hehehehehehe

 photo d3d6cb54-49a5-4e5d-9e6e-5266432cea67_zps642ecaff.jpg

Setelah berkeliling-keliling, tidak terasa hari cepat sekali berakhir karena dimusim ini matahari bersinar lebih pendek daripada diwaktu lainnya. Mulai gelap jam 5 sore dan tak terasa langsung malem gelap tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Beruntung saat matahari terbenam, kita sedang mampir di Osaka Bay, jadinya sempet dadag-dadag sama matahari.... "sampaikan salam ku untuk anak-anak di rumah" karena waktu di Osaka dua jam lebih cepat dari waktu Cimahi.

Monday, December 7, 2009

Cute small token from Japan

My friend went to Japan and brought me this cute square tin box. I thought it was a pencil colour box. I opened it and found that I was wrong. Inside, there are some cookies covered with pink chocolate. The cookie called Yatsuhashi. Yatsuhashi is traditional Japanese cookies made from rice flour and cinnamon. The people from Kyoto start to sell yatsuhashi since 250 years ago as souvenir.

I adore this souvenir because of their briliant packaging. For more just click http://otabe.co.jp/item/aki/tyoko.html (Don't understand, in Japanese). The industry is very seriously design it.
Wish, someday I could find local food packaging on beautiful design. Just a crazy idea... Dodol garut in tin box with a girl in kebaya's sunda clothes design in anime or CB style hehehhehhehehe