Masih ingat kata-kata mutiara bahwa Jepang itu mahal, terutama untuk transportnya. Sepertinya saya termakan oleh kata-kata ajaib itu. Saya rasa saya melakukan kesalahan fatal dalam membeli tiket kereta. Sejak awal pergi, saya memutuskan untuk tidak membeli tiket JR Pass karena harganya yang mendekati 3 juta rupiah (mendekati tiket airasia bandung-osaka hehehhehe) dan saya kurang dari seminggu melancong disini, rasanya memang kurang efektif. Tapi penasaran juga sih kayak apa kalo naek kereta cepat Shinkansen itu?
Setelah baca buku dan blog sana-sini, saya memutuskan hanya membeli JR Kansai, pertimbangannya karena untuk kereta pulang nanti dari Kyoto ke Bandara Kansai, Osaka. Trus karena 2 hari terakhir saya akan mengelilingi daerah-daerah Kansai, lumayan bisa merasakan Shinkansen walaupun hanya 15 menit. Untuk transportasi dalam kota, diputuskan untuk membeli daypass saja . Nah, disini saya terlalu perhitungan. Tokyo memiliki sistem kereta api bawah tanah yang terintegrasi. Perusahaan kereta ada beberapa, JR milik pemerintah dan 2 line milik swasta. Tiket kereta pun berbeda-beda tergantung line mana yang akan dipakai. Nah, saya pengen ngirit waktu membeli tiket, karena saya pikir sudah mencukupi area yang saya kunjungi. Tiket seharga 700 yen bisa menggunakan Toei Line seharian, padahal kalo mau nambah 300 yen lagi, bisa memakai metro line. Tau apa akibatnya karena terlalu pelit untuk bayar 300 yen???????
Saya tidak bisa mengakses banyak stasiun bawah tanah di Tokyo. Dan saya harus keluar dari suatu stasiun untuk menemukan pintu yang sesuai dengan tiket saya. Dan sialnya lagi, tidak semua stasiun memiliki pintu keluar dengan eskalator dan lift. Kebayang kan harus naik 8 tingkat tanpa bantuan eskalator. Gempor...! Belum lagi harus nyasar-nyasar karena salah menemukan pintu masuk. Waktu dan tenaga sudah banyak terbuang percuma hari ini. (gara-gara pengen ngirit 300 yen, nasib). Sampe akhirnya kita ke Tokyo Station karena disini semua kereta bermuara. Station ini merupakan tempat tersibuk di Jepang karena seluruh line dan juga Shinkansen ada disini. Sekali lagi, jangan harap bisa menemukan bangku untuk duduk beristirahat. Semua orang bergegas untuk melanjutkan perjalanannya.
Musim gugur dan musim dingin memang
hanya menyisakan waktu terang yang relatif lebih sedikit dibanding
dengan musim lainnya. Jadi jangan heran jika jam menunjukkan waktu 5
sore tapi diluar sana kelihatan sudah melewati waktu Isya. Apalagi, awan
gelap pembawa hujan kerap sekali muncul, menambah suasana temaram yang
buat saya nggak nyaman untuk berjalan-jalan. Ada rasa yang berbeda saat
melakukan perjalanan saat terang dan gelap. Biasanya, otak saya jadi kram dan sedikit tulalit kalo dikasih malam.
Untuk mengantisipasi sore yang berasa malam, biasanya sih banyak lampu-lampu dipasang. Terutama di pohon-pohon yang meranggas karena memang waktunya mereka menggugurkan daun-daun untuk hibernasi dimusim selanjutnya. Setelah melihat-lihat daerah sekitar, kita berencana untuk mencari Shibuya dan Patung Hachiko. Saya pengen menikmati sensasi The Fast and Furious, Tokyo drift dan juga film Hachiko yang diperankan oleh Richard Gere. Nah, karena kesalahan kecil yang fatal tadi (gara-gara pengen ngirit), akhirnya kedua tempat itu tidak bisa ditemukan karena stasiun hanya terlewati bukan tempat berhenti. Apalagi pake perasaan bahwa tempat itu ada diatas kita, akhirnya, nyasar.com selama beberapa jam. Sempet nanya ke Koban (polisi) dan ditunjukkan petanya. Hasilnya.... jauh pisan dan kayaknya nggak sanggup lagi untuk berjalan ke dua tempat itu. Kita memutuskan untuk kembali ke penginapan aja.
Sebelum sampai kembali ke penginapan, tiba-tiba terlintas tulisan Stasiun Akihabara.... tuing.... entah ide darimana tiba-tiba dapet enerji untuk naik keatas buat liat Akihabara yang beken dengan barang elektronik dan jadi "Mecca" untuk para gamers. Selain itu, supaya besok kalo mo kesini udah tau rutenya hehehhehehe