Showing posts with label canon powershot A495. Show all posts
Showing posts with label canon powershot A495. Show all posts

Wednesday, June 15, 2011

Being educated in Singapore

Perjalanan kali ini suprising untuk kedua anakku tercinta. Niatnya sih pengen memperkenalkan bahwa ada negara yang sudah maju dan teratur. Jadi bukan mau sok gaya-gayaan gitu. Anak-anak sangat excited dengan adanya MRT, jembatan bawah tanah, Marina Bay, dll. Apalagi Nabil yang entah kenapa sangat nge-fans berat dengan Dhoby Ghaut Station.

Kali ini kita tidak menghabiskan waktu di Universal Studio, karena perbedaan tinggi badan si besar dan si kecil yang sangat signifikan bakal menimbulkan keributan kecil. Jadinya kita hanya menonton pertunjukan kembang api di USS yang ada setiap malam weekend. Tiketnya dijual setelah USS tutup. Dengan membayar S$5 kita bisa menikmati USS saat malam dan menonton kembang api pukul 22.00.

Sebetulnya kalo bawa anak-anak sih nggak terlalu ribet kalo kita mengikuti maunya anak. Kita menghabiskan waktu di Pantai Sentosa karena ternyata anak-anak lebih enjoy maen pasir daripada melihat mainan lainnya. Jangan lupa untuk berbekal makanan ringan dan berat, karena harga makanan di Sentosa lebih mahal daripada di Singapura. O iya, di Siloso Beach ada pertunjukkan Song of the sea yang pasti anak-anak suka. Kalo bisa sih, ketika sampai di Sentosa cepat-cepat nyari tiket booth untuk penjualan tiket ini karena cepat habis terjual. Ada dua pertunjukan setiap harinya, kecuali weekend ada pertunjukan ketiga. Worth it lah nonton yang satu ini.

Saya lebih suka untuk ekspole Singapore dengan bis karena lebih seru saja. Bis disana tidak menerima uang tetapi untuk membayar karcis memakai kartu EZ-Link. Nah sebelum pergi saya sudah kasak-kusuk meminjam kartu ini pada teman-teman lain, karena lebih murah memakai kartu EZ dari pada beli tiket single fare.

Untuk penginapan, saya memilih ABC hostel, di Jl Kubor 3 .www.abchostel.com.sg  deket dengan Bugis MRT Station. Dengan harga yang terjangkau, hostel ini juga menerima tamu keluarga dengan anak-anak (kebanyakan hostel hanya menerima anak diatas 12 tahun). Dapet breakfast sepuasnya, ada air panas untuk menyeduh Pop Mie 24 jam, internet gratis. Ah, pokoknya mah kalo  mau jalan-jalan aja sih nggak usah ngeluarin uang terlalu banyak, asal nggak tergiur ama barang-barang di Mall pasti deh aman isi dompet.

Photo

Photo

Photo

Saturday, June 11, 2011

Kuala Lumpur with the kids

Kalo ditanya soal jalan-jalan, sepertinya udah mengakar dari kecil. Saya bukan orang yang betah dirumah karena memang nggak pernah ada di rumah. Menaklukkan jalan-jalan sempit dan gang-gang sekitar rumah merupakan hal yang paling menyenangkan, ataupun menemukan jalan singkat seperti melalukan permainan puzzle yang paling menarik selama saya kecil.

Pengalaman backpack saya pertama adalah kunjungan ke rumah Nenek teman di Jogya. Dengan menumpang kereta api kelas kambing yang tiketnya harga Rp.4.000, pengalaman yang tak terlupakan dan menjadi titik balik saya untuk bisa berjalan-jalan dengan harga murah. Sejak itulah saya menggemari perjalanan-perjalanan jarak agak jauh dengan menggunakan bis ataupun kereta kelas ekonomi.
Sejak terpaksa menikmati perjalanan jauh selama 24 jam menggunakan pesawat terbang, saya semakin menjadi-jadi untuk mencari perjalanan yang semakin meningkatkan imajinasi dan mengganggu kejiwaan saya. Tapi perjalanan yang saya impikan itu harus terhenti sejenak ketika saya menikah dan mempunyai anak.

Well, setelah anak-anak cukup mandiri untuk diajak jalan-jalan menikmati apa adanya, saya kembali meneruskan angin maen dan tidak sendiri lagi tapi ditemani oleh orang-orang tercinta. Kualalumpur jadi titik awal family backpacker saya. Saya tidak bisa memberikan kemewahan tour-tour kepada keluarga saya, tapi saya berusaha memberikan pengalaman termewah dari perjalanan indah di seluruh sudut dunia....

Photo
Photo
Photo

Tuesday, March 1, 2011

My mom is pizza maker

Walaupun awal bulan, tapi rengekkan anak-anak untuk mengunjungi gerai pizza tetep aja bikin aku mikir berkali-kali. Sudah terbayang kalo mampir kesana pasti bukan hanya pizza saja yang diminta, akan ada buffalo wings, pasta, ice cream dan minuman. Rasanya ya nggak suka aja untuk mengeluarkan extra uang disana.
Setelah dipikir-pikir, pengalaman membuat pizza bagi saya adalah suatu kegagalan. Rasanya beberapa kali saya punya masalah dengan roti/alas pizza yang bantat. Pasti di bagian tengah roti berbeda warna dan kerasnya minta ampun.
Kali in dengan Bismillah saya mulai membuat roti/alas pizza. Resepnya didapat dari buklet Atlas Concerto. O iya, Atlas Concerto itu sebuah alat untuk membantu membuat adonan roti. Bentuknya kotak (pas bikin roti nanti aku posting ya fotonya), tinggal memutar tuasnya untuk beberapa menit, adonan kalis siap diolah. Untuk rasa, bolehlah... Terbukti dari komentar teman dan ciuman dari anak-anak tercinta.


Pizza ala Concerto
Bahan Roti :
500 gram Tepung terigu protein tinggi (Cakra Kembar)
1 sdm Margarin (Blue Band)
4 sdm Gula pasir
3 butir Kuning telur
1 sdm Susu bubuk
1 sdt Garam
1/2 bungkus Ragi instan
200 cc Air dingin

Bahan Saus:
1 buah Bawang bombay, dicincang halus
1 siung Bawang putih, cincang halus
2 sdm Minyak zaitun (boleh diganti minyak goreng biasa)
200 gram Tomat segar (pilih yang matang dan tidak kecut)
400 gram Saus tomat botol (Del Monte), bisa diganti dengan 5 buah tomat segar, rebus + parut
50 gram Pasta tomat (Del Monte)
1 sdt Basil
2 sdt Oregano
1 sdt Garam (atau sesuai selera)
1/2 sdt Gula (atau sesuai selera)
1/4 kg Daging giling

Bahan Topping:
Keju mozarella (jangan diganti dengan keju yang lain), diparut panjang-panjang

Cara membuat:
1) Saus: panaskan minyak, tumis bawang bombay & bawang putih, masukkan pasta tomat & tomat segar, masukkan daging cincang, aduk-aduk & masak saus hingga kental dan meletup-letup. Masukkan garam, gula, oregano, basil. Aduk sebentar, angkat dan dinginkan.

2) Roti: masukkan semua bahan kering ke dalam Concerto (kecuali garam & mentega), masukkan telur , masukkan air 150 ml sedikit-sedikit. Aduk sampai agak rata. Pertama-tama adonan akan berbutir seperti havermut. Lama-lama adonan akan berbutir lebih besar seperti popcorn. Masukkan air lagi sedikit demi sedikit kalau adonan terlalu kering. Setelah adonan agak kalis (menyatu), masukkan garam dan mentega. Aduk lagi hingga adonan kalis benar.

3) Proofing pertama: bulatkan & letakkan adonan yang sudah kalis di atas meja yang sudah ditaburi tepung, tutupi dengan plastik supaya permukaan tidak menjadi kering. Biarkan selama 10 menit supaya adonan menjadi rileks.

4) Proofing kedua: potong-potong adonan sesuai keperluan, bulat-bulatkan, tutup dengan plastik, istirahatkan lagi selama 30 menit.

5) Proofing ketiga: gilas masing-masing bulatan, bulatkan lagi lalu bentuk menjadi lempengan tipis seperti piring (jangan tebal-tebal karena adonan akan naik). Tusuk-tusuk dengan garpu. Biarkan selama 30 menit.

6) Topping: panaskan oven. Roti siap untuk Diolesi dengan saus tomat. Hias dengan bahan topping sesuai selera. Tutupi dengan parutan keju mozarella hingga tertutup.

7) Panggang selama 15 menit pada suhu 180 °C hingga matang. Untuk pizza mini, cukup panggang selama ±12 menit.

Butter Cheese Cake

Beberapa hari ini semangat kembali ke dapur menyala. (bukan karena habis ikut ESQ ya hehehhehe).Karena sudah beberapa saat absen, jadinya dicari resep yang mudah, cepat dan anti gagal. Akhirnya terpilihlah resep butter cheese cake dari website www.ncc-indonesia.com.

Karena anti gagal, jadinya asik dibuat variasi cupcake untuk bekal anak-anak. Dan dengan senang hati mereka menghias kue dengan topping selai yang ada di rumah. Sebetulnya keadaan polos pun sang kue sudah enak disantap. Lembut dan creamy..... Bahkan si kecil pun tidak berhenti menyantapnya :p

Butter Cheese Cake, source NCC Indonesia
Bahan A.:
225 gr   tepung terigu
1 ½ sdt baking powder
¼ sdt    garam
 
Bahan B.:
200 gr    mentega
175 gr    cheese krim (hanya 125g, sisanya mo bikin JCC)
½ sdt    kulit jeruk lemon parut
175 gr    gula pasir
5 btr      kuning telur
 
Bahan C.:
5 btr      putih telur
1 sdt      air jeruk lemon
 
Cara membuatnya:

Siapkan 6 bh loyang tulban mini, poles mentega dan taburi tepung terigu.(saya tidak memakai loyang tulban, tetapi loyang muffin dan langsung dilapisi kertas cup)
Bahan B: Kocok mentega dan Cheese Cream  hingga mengembang sekali dan pucat, masukkan gula pasir sambil tetap dikocok. Masukkan kuning telur dan kulit jeruk, sambil tetap dikocok hingga tercampur rata.
Tuang campuran bahan A kedalam adonan mentega, aduk rata. Sisihkan.
Kocok bahan C hingga kaku, lalu secara bertahap campurkan kedalam adonan mentega, aduk rata.
Tuang adonan kedalam loyang, panggang dalam oven suhu 180’C selama lk. 30 menit, atau hingga matang.

Sunday, January 30, 2011

Visit Saung Angklung Udjo

Kunjungan ke Saung Angklung Udjo selalu menjadi kenangan tersendiri. Kali ini saya tidak membawa tamu perusahaan tapi teman-teman dari Bike to Work Indonesia. Tampaknya sih mereka enjoy Dan baru menyadari kalo Bandung teh bukan hanya tempat makan dan factory outlet saja. 
Ah, pokokna nah rame liat pertunjukkan. Belum sempet ke Padasuka, mangga atuh dilihat Aja dulu foto sayah ya..... (thanks to Kang Opik untuk kebaikannya menjamu Bike to Work).

Saturday, January 22, 2011

Pocket Camera: 2. Love your camera unwillingly

Berapa lamakah anda mempunyai kamera? Sudah sejauh apa kamera anda di kenali? Ungkapan tak kenal maka tak sayang berlaku juga untuk masalah kamera. Pada umumnya orang percaya bahwa kamera mahal akan menghasilkan foto yang indah. Padahal foto yang baik dan indah itu tergantung pada skill, komposisi dan moment, yang terakhir baru alat. Jadi alat itu hanya 25% selebihnya adalah manusia. 
Pada dunia potret memotret dikenal dengan golden triangle, heheheh bukan merek mentega ya. Golden triangle adalah kombinasi antara aperture (f), shutter speed (ss) dan ISO. Kombinasi tepat diantara mereka akan menghasilkan foto secara teknis yang baik ( masih ada unsur komposisi dan moment ya). Biasanya kamera saku ada yang menyediakan golden tringle yang dapat diatur manual. Silahkan dilihat pada tombol atau LCD kamera, jika ada kode M berarti kamera saku anda dilengkapi dengan program manual. Tapi jika tidak, jangan khawatir. Kita masih dapat mengontrol kamera saku kita.
Secara garis besar, fungsi- fungsi di kamera saku dilambangkan dengan :

1. SCENE/ symbol/ ikon
Biasanya gambar- gambar ini untuk memudahkan pengguna untuk mengambil foto secara cepat dengan pengaturan secara keseluruhan diatur oleh kamera. Misalnya gambar gunung untuk memotret pemandangan, gambar bintang dan bulan untuk pemotretan malam hari, gambar sendok garpu untuk makanan, dan symbol-symbol lainnya.

2. ISO
Adalah kemampuan kamera untuk mengatur sensivitas cahaya dalam memotret. Semakin besar angka ISO semakin terang cahaya yang dihasilkan. Tapi hati hati, Iso tinggi menghasilkan foto yang berpasir atau grainy. Akan tampak jika
kita perbesar hasil foto. Sesuaikan ISO dengan kondisi lapangan. ISO rendah untuk matahari yang sangat terang, sedangkan ISO tinggi digunakan dalam ruangan dan gelap.

3. WB (white balance)
WB adalah pengaturan cahaya sesuai dengan kondisi yang anda. Biasanya ada gambar matahari, lampu, jendela, dll. Jika kita memotret di luar ruangan dan sedang terik set WB ke daylight yang biasa dilambangkan dengan matahari. Dalam ruangan set ke tungsten, florescence H atau florescence L yang setara dengan penerangan lampu. Dalam keadaan mendung, set ke cloudly.

4. Makro
Ini adalah favorit saya. Biasanya dilambangkan dengan ikon bunga. Digunakan untk memotret jarak dekat untuk mendapatkan detail benda. Foto anggrek ini menggunakan ISO 80, WBnya cloudly dan makro. Untuk mendapatkan efek blur di belakang objek yang saya lakukan adalah memfokuskan pada anggrek lalu tombol setengah ditekan untuk mempertahankan fokus. Geser kamera sampai mendapat komposisi sepeti dlam potret. Sudahi dengan menekan tombol. Voila.....

5. Bracketing/ pengaturan ekposure.
Biasanya digunakan symbol OEV ( zero exposure value) yang dilambangkan dengan
-2......-1.......0......+1......+2. contoh kasusnya adalah foto minuman strawberry. Diambil di cafe pas malam hari. ISO diset ke 1600, WB florescence H, tapi hasil dilayar masih gelap. Lalu angka OEV diubah ke nilai minus 1,3 untuk mendapatkan cahaya lebih. Hasilnya lumayan kan, hanya saja butiran pasir tampak disekeliling gelasnya.
Sedangkan nilai plus digunakan jika kondisi terlalu terang. Misalnya memotret saat salju, atau taj mahal yang serba putih. Kalo mau mencari cahaya yang pas, bisa dicoba pada saat posisi -1, 0, atau +1. Bandingkan cahaya mana yang cocok dengan selera anda.

6. Single shot atau burst.
Ingin memotret tanpa meninggalkan satu detik pun. Gunakan mode burst ( biasanya gambar tiga lemar foto). Secara otomatis akan mengasilkan tiga gambar dalam satu jepretan.

7. Timer
Biasa digunakan jika ingin motret bersama-sama. Tapi saya biasanya menggunakannya untuk keperluan memotret kecepatan rendah. Biasanya dalam kecepatan yang rendah tangan kita harus stabil dalam memegang kamera. Jika tripod tidak ada dan dalam memotret bergerak, saya set ke timer, pijit tombol dan biarkan timer yang menset shutter dengan sendiri. Dijamin gambar tidak akan goyang.

8. Panoramic view, resolusi,dll.
Hal ini tidak terlalu mempengaruhi hasil memotret. Untuk panoramic view biasanya digunakan untuk memotret pemandangan. Sedangkan untuk resolusi, pastinya mode fine akan menguras memori anda dibandingkan untuk normal use. 

Rasanya sih, yang saya inget biasanya hal-hal tersebut yang saya oprek. Untuk yang lainnya sih rasanya tidak mempengaruhi hasil pemotretan. Hayooooooo tareman-tareman, eksplore dan kenali kemampuan kamera anda. Sayangkan kalo kemampuan kamera bisa diatas rata-rata tapi tidak dimaksimalkan oleh anda.....      

Friday, January 21, 2011

Pocket Camera : 1. Define your need well

Apapun jenis kamera saku yang kita miliki, pastinya mempunyai kemampuan dan kelebihan sendiri sesuai dengan kebutuhan penggunanya.  Jadi kalo ada pertanyaan tentang kamera saku mana yang di pilih, tentunya saya memilih yang sesuai dengan kebutuhan saja (Tapi biasanya sih, saya memilih kamera tidak berdasarkan keinginan karena rejek doorprize) Secara  garis besarnya sih saya akan memilih berdasarkan :
1.       Kemampuan pengaturan manual
Biasanya kamera mempunyai opsi AUTO, SCN/ Scene, Program/ P, dan juga M/ manual. Mpixx saya hanya 7MP dan sangat sederhana. Tapi saya sangat menyukai dan mengandalkannya. Kenapa? Karena kemampuan pengaturan manual yang dipunyainya. Terkadang dalam memotret suatu objek, kita sudah membayangkan seperti apa jadinya. Dengan kemampuan manual, kita bisa memprediksi apa jadinya objek yang kita ambil dengan mengatur sendiri  shutter speed (SS), aperture (F), bracketing (OEV/±), ISO, WB. Dan bonus dari penguasaan hal ini jadi nilai tersendiri ketika kita naek kelas ke DSLR (Amiiin). Sedangkan sang Canon Powershot A495 hanya mempunyai kemampuan pengaturan di WB, ISO dan bracketing. Kemampuan makronya sangat dapat diandalkan, hanya saja aperture dan shutter speed otomatis dianturnya. Sedangkan kamera saku suami yaitu Lumix dengan kemampuan AI (Artificial Intelegent) yang sangat pintar. Sayangnya untuk saya yang suka eksplore hal ini nggak terlalu disukai. Soalnya kepinteran sih, jadi hasilnya pasti nggak sesuai terus ama yang dimaui…. Pinter teuing.
2.       Resolusi/ Pixels.
Apa tujuan kita untuk punya kamera saku? Apakah untuk sekedar upload gambar ke social networking, blog atau hanya untuk fun saja. Kalo memang kebutuhan hanya untuk media social network, mega pixels tidaklah menjadi hal yang sangat penting. Karena untuk upload ke internet, biasanya foto akan diresize. Kebanyakan hasil foto saya malahan menggunakan 7 MP dan baru kamera baru 10 MP. Secara kasat mata sih nggak keliatan di blog, tapi  beda kalo memang niatnya sang foto nanti akan di cetak. Mega pixel yang tinggi wajib dimiliki untuk mendapatkan hasil cetak yang baik.
3.       Batere
Kamera yang murah biasanya menggunakan batere yang mudah bisa kita dapatkan, misalnya AA. Saya memilih tipe ini karena tidak khawatir untuk kehilangan moment saat batere kita habis. Dan lagi jika batere rusak saya tidak memerlukan uang lebih hanya untuk mengganti sang batere. O iya, jangan lupa untuk mencopot batere dalam kamera jika tidak digunakan dalam waktu lama. Karena batere masih mempunyai sisa tenaga yang takutnya akan mengakibatkan korslet, atau batere yang bocor akan mengakibatkan kerusakan fatal pada kamera
4.       LCD
Sepertinya tidak ada perbedaan ukuran LCD 2,5 dan 3. Yah tetep aja segitu gitu aja. Bahkan kamera saku sekarang ada yang sudah touch screen dan segala pengaturan tinggal sentuh layarnya. Berhubung saya memakai kamera saku bersama-sama sang anak, hal istimewa seperti ini saya tinggalkan. Semakin tidak canggih semakin saya sukai, karena biasanya kalo ada apa-apa kerusakan tidak akan parah dan ongkos kerjanya pun masih ramah di kantong.
5.       Zoom, GPS, Flash, Bluetooth, dll
Kalo masalah yang ini sih kayaknya nggak terlalu dipentingkan. Karena saya nggak pernah make semua itu. Zoom memang oke untuk memotret jarak jauh, sayangnya dengan zoom kualitas foto kita jadi menurun. Saya lebih suka mendekati objek dari pada zooming. Demikian juga dengan flash, hampir jarang dipake karena mengandalkan cahaya yang ada. Flash digunakan hanya pada kasus backlight saja. Dan untuk opsi lainnya seperti video rasanya sih nggak terlalu mengganggu kalo tidak tersedia dalam kamera karena toh yang kita butuhkan adalah hasil dari motret objek.
6.       Konektivitas
Biasanya kamera saku dilengkapi oleh 2 buah kabel, yaitu kabel untuk koneksi ke televisi yang mempunyai 3 buah colokan berwarna merah, kuning dan putih, Gunanay untuk melihat hasil di layar tv. Dan satu lagi kabel usb untuk koneksi ke komputer. Tapi jarang juga sih kabel-kabel itu aku pake kecuali si computer tidak mengenali SD card. Biasanya sih tancep langsung slot card yang ada.
Pertimbangan ini sih menurut saya pribadi ya, diluar dari kecanggihan berbagai macam merek. Lagian juga kalo kecanggihan justru kita malah jadi males bereksperimen nerima apa adanya. Well, selamat menggauli kamera saku masing-masing