Showing posts with label Photography. Show all posts
Showing posts with label Photography. Show all posts

Wednesday, August 29, 2012

stroberi bermandikan cahaya...

Pencahayaan dalam pemotretan merupakan salah satu unsur terpenting. Karena cahayalah kita harus menyesuaikan settingan kamera, terutama the golden triangle. Kita harus mengatur ISO, F Stop (Aperture/ Bukaan), dan SS (Shutter Speed/ Kecepatan) agar objek mendapatkan cahaya yang cukup. Cahaya favorit saya adalah sinar matahari pagi, karena masih tidak terlalu terang. Jika terlalu siang, cahaya akan berkelebihan dan hasil foto biasanya terlalu terang. Lebih enak lagi cahaya ketika masih mendung, karena awan menjadi filter bagi matahari dan cahaya yang dihasilkan tidak terlalu kuat. Saya pribadi, tidak terlalu suka dengan blitz atau flash. Karena hasil gambar yang dihasilkan terlalu datar. Walaupun di dalam ruangan, saya akan berusaha untuk tidak menggunakan flash, biasanya saya akan memaksimalkan settingan the golden triangle ini. 

Eagle Eye

Untuk food fotography, cahaya alami sangat mempengaruhi objek. Entah mengapa, menurut saya, cahaya alami akan menambah selera pada objek makanan. "Teman" saya pernah sih mengajarkan untuk membuat cahaya yang mendekati alami dengan menggunakan softbox buatan. Hehehehhe tapi belum saya kerjakan tuh, kalah ama males (sorrryyyyy A Dudi, penyakit haroream saya kambuh).  

Friday, January 21, 2011

Pocket Camera : 1. Define your need well

Apapun jenis kamera saku yang kita miliki, pastinya mempunyai kemampuan dan kelebihan sendiri sesuai dengan kebutuhan penggunanya.  Jadi kalo ada pertanyaan tentang kamera saku mana yang di pilih, tentunya saya memilih yang sesuai dengan kebutuhan saja (Tapi biasanya sih, saya memilih kamera tidak berdasarkan keinginan karena rejek doorprize) Secara  garis besarnya sih saya akan memilih berdasarkan :
1.       Kemampuan pengaturan manual
Biasanya kamera mempunyai opsi AUTO, SCN/ Scene, Program/ P, dan juga M/ manual. Mpixx saya hanya 7MP dan sangat sederhana. Tapi saya sangat menyukai dan mengandalkannya. Kenapa? Karena kemampuan pengaturan manual yang dipunyainya. Terkadang dalam memotret suatu objek, kita sudah membayangkan seperti apa jadinya. Dengan kemampuan manual, kita bisa memprediksi apa jadinya objek yang kita ambil dengan mengatur sendiri  shutter speed (SS), aperture (F), bracketing (OEV/±), ISO, WB. Dan bonus dari penguasaan hal ini jadi nilai tersendiri ketika kita naek kelas ke DSLR (Amiiin). Sedangkan sang Canon Powershot A495 hanya mempunyai kemampuan pengaturan di WB, ISO dan bracketing. Kemampuan makronya sangat dapat diandalkan, hanya saja aperture dan shutter speed otomatis dianturnya. Sedangkan kamera saku suami yaitu Lumix dengan kemampuan AI (Artificial Intelegent) yang sangat pintar. Sayangnya untuk saya yang suka eksplore hal ini nggak terlalu disukai. Soalnya kepinteran sih, jadi hasilnya pasti nggak sesuai terus ama yang dimaui…. Pinter teuing.
2.       Resolusi/ Pixels.
Apa tujuan kita untuk punya kamera saku? Apakah untuk sekedar upload gambar ke social networking, blog atau hanya untuk fun saja. Kalo memang kebutuhan hanya untuk media social network, mega pixels tidaklah menjadi hal yang sangat penting. Karena untuk upload ke internet, biasanya foto akan diresize. Kebanyakan hasil foto saya malahan menggunakan 7 MP dan baru kamera baru 10 MP. Secara kasat mata sih nggak keliatan di blog, tapi  beda kalo memang niatnya sang foto nanti akan di cetak. Mega pixel yang tinggi wajib dimiliki untuk mendapatkan hasil cetak yang baik.
3.       Batere
Kamera yang murah biasanya menggunakan batere yang mudah bisa kita dapatkan, misalnya AA. Saya memilih tipe ini karena tidak khawatir untuk kehilangan moment saat batere kita habis. Dan lagi jika batere rusak saya tidak memerlukan uang lebih hanya untuk mengganti sang batere. O iya, jangan lupa untuk mencopot batere dalam kamera jika tidak digunakan dalam waktu lama. Karena batere masih mempunyai sisa tenaga yang takutnya akan mengakibatkan korslet, atau batere yang bocor akan mengakibatkan kerusakan fatal pada kamera
4.       LCD
Sepertinya tidak ada perbedaan ukuran LCD 2,5 dan 3. Yah tetep aja segitu gitu aja. Bahkan kamera saku sekarang ada yang sudah touch screen dan segala pengaturan tinggal sentuh layarnya. Berhubung saya memakai kamera saku bersama-sama sang anak, hal istimewa seperti ini saya tinggalkan. Semakin tidak canggih semakin saya sukai, karena biasanya kalo ada apa-apa kerusakan tidak akan parah dan ongkos kerjanya pun masih ramah di kantong.
5.       Zoom, GPS, Flash, Bluetooth, dll
Kalo masalah yang ini sih kayaknya nggak terlalu dipentingkan. Karena saya nggak pernah make semua itu. Zoom memang oke untuk memotret jarak jauh, sayangnya dengan zoom kualitas foto kita jadi menurun. Saya lebih suka mendekati objek dari pada zooming. Demikian juga dengan flash, hampir jarang dipake karena mengandalkan cahaya yang ada. Flash digunakan hanya pada kasus backlight saja. Dan untuk opsi lainnya seperti video rasanya sih nggak terlalu mengganggu kalo tidak tersedia dalam kamera karena toh yang kita butuhkan adalah hasil dari motret objek.
6.       Konektivitas
Biasanya kamera saku dilengkapi oleh 2 buah kabel, yaitu kabel untuk koneksi ke televisi yang mempunyai 3 buah colokan berwarna merah, kuning dan putih, Gunanay untuk melihat hasil di layar tv. Dan satu lagi kabel usb untuk koneksi ke komputer. Tapi jarang juga sih kabel-kabel itu aku pake kecuali si computer tidak mengenali SD card. Biasanya sih tancep langsung slot card yang ada.
Pertimbangan ini sih menurut saya pribadi ya, diluar dari kecanggihan berbagai macam merek. Lagian juga kalo kecanggihan justru kita malah jadi males bereksperimen nerima apa adanya. Well, selamat menggauli kamera saku masing-masing

Friday, January 14, 2011

Dog is not the best man friend, is it?

How do you like my photos?


Warisan pertama yang kita berikan ke anak- anak adalah alergi. Perpaduan Tiyo alergi debu dan aku alergi dingin, menghasilkan anak-anak yang alergi debu, dingin dan bulu binatang. Padahal Lulla suka banget ama binatang, terutama yang berbulu seperti kucing, anjing dan kelinci. Dokter tidak menyarankan untuk mempunyai binatang berbulu di rumah, kecuali sering dibawa ke salon ( hi hi hi ibunya aja nggak pernah nyalon).

Akhirnya ayam lah yang delihara di rumah. Sebetulnya aada dua ayam yang dikasih nama Ay-ay dan Yam-yam. Sayangnya si Ay-ay mati digigit musang yang lewat rumah. Well, ini foto diambil dengan cara mengendap-ngendap dari jendela. Terlihatkan betapa mesranya hubungan si anak dengan peliharaannya hehehhehehheheheh