Thursday, November 22, 2012

Istana Siak, the glory will always be with you.

Ajakan ke Kabupaten Siak langsung disambar dengan cepat. Hari itu kita semua berencana untuk mengunjungi Istana Kesultanan Siak Sri Indrapura. Perjalanan sekitar 100 km dari Pekanbaru ditempuh dengan melalui jalan pintas diantara kebun sawit, dan hutan-hutan. Walaupun cuaca sedang mendung dan melalui bukan jalan aspal, tapi kami menikmatinya karena selama ini kita belum pernah merasakan offroad. Tidak sulit untuk menemukan Istana Sultan Siak, karena bangunannya yang megah berdiri di tepi Sungai Siak. Dengan membayar tiket dewasa seharga Rp. 4000, dan anak-anak Rp.2500, kita bisa masuk ke Istana yang dibangun  pada tahun 1889 dengan lama pembangunan 9 tahun lamanya. 

Istana siak
Kesultanan Siak Sri Indrapura merupakan Kerajaan Melayu Islam yang diperhitungkan pada masanya. Pengaruhnya sangat kuat, sehingga membentuk segitiga pelabuhan kuat di Selat Malaka, yaitu Johor, Singapura dan Siak. Bahkan daerah kekuasaan kerajaan ini diperebutkan oleh Inggris dan Belanda karena letaknya yang strategis. Belanda sendiri memperlakukan Kesultanan Siak secara istimewa demi mendapatkan kayu-kayu yang berasal dari sini. Setelah masa perang dunia kedua selesai, Sultan Syarif Kasim II menyerahkan kedaulatannya ke Republik Indonesia. Nama beliau menjadi nama bandara di Pekanbaru.

Sultan siak









































Memasuki Istana Siak, harus membuka alas kaki karena koleksi yang berada di dalamnya masih asli seperti ketika Sultan Siak berkuasa dan menjaga kebersihan dalam istana. Lantai marmer yang memberikan efek dingin, didatangkan dari Italia langsung. Diruangan tengah, terdapat mahkota emas (aslinya ada di Museum Nasional sedangkan yang dipajang adalah replikanya) yang digunakan raja dalam acara-cara resmi kesultanan pada masa itu. Coba perhatikan lampu hiasnya, karena jaman itu nggak ada listrik, jadi lampunya masih pake minyak tanah. Ada tangki kaca untuk menampung sang minyak.

file




Diruang makan terdapat meja makan yang sangat besar untuk jamuan. Ditembok sebelah atas, terdapat patung (atau hewan dikeringkan ya?) menempel. Ada kepala rusa, anjing menggigit kelinci, dll. Hal ini dikarenakan sultan pada saat itu sangat gemar berburu.Dan sekali lagi, perhatikan deh lampunya, tetep lampu antik menggunakan minyak tanah. Kebayang yang harus kebagian ngurusnya....

Ruang makan



Disetiap sudut dipasang cermin-cermin besar yang berguna untuk memantul sinar lampu sehingga ruangan menjadi terang. Disetiap pintu dipasangi oleh porselen berwarna biru. Antar ruang mempunyai pintu dengan bulatan sedangkan pintu yang menghadapi outdor mempunyai pola kubah.

file









































Pola kubah ini seperti irisan mesjid-mesjid yang ada pada umumnya. Arsitektur Istana ini merupakan perpaduan antara unsur Melayu, Eropa dan Islam yang kuat. Hampir seluruh material didatangkan dari Eropa. Untuk kerajaan hal ini merupakan hal yang mudah karena Kerajaan Siak merupakan pelabuhan dengan sungai dalam yang diperhitungkan pada jamannya.

Pintu istana









































Istana ini terdiri dari dua lantai dan untuk dapat ke lantai dua kita harus antri karena maksimal 25 pengunjung. Dihubungkan oleh tanggal besi melingkar dengan warna khas melayu, putih, merah dan kuning.

file










































Ketika menapaki lantai dua, hal yang paling saya sukai adalah.... lantai tegel bercorak. Yapssss, saya adalah penggemar berat lantai antik ini. Pola yang simetris dan lantainya yang dingin selalu membuat saya kangen. Heheheheehhe rumah saya waktu kecil mempunyai lantai seperti ini, saya suka tidur-tiduran tanpa alas ketika hari panas....adeeeemmmmmm

Untuk cerita selanjutnya, baca lanjutannya disini ya koleksi istana siak
Lantai