Friday, April 19, 2013

apapun bentuknya, kopi selalu bertoleransi

When traveling with someone, take large does of patience and tolerance with your morning coffee.

Helen Hayes

Kopi adalah satu-satunya minuman yang paling bertoleransi diantara seluruh minuman yang ada di muka bumi ini. Hampir seluruh umat manusia dapat menikmatinya (walaupun tidak dapat ngopi masih bisa memanfaatkannya dalam bentuk lain) tanpa membedakan suku, agama, ras, warna kulit dan jenis kelamin. Tidak perduli negara penghasil kopi sedang berkonflik dengan negara pembelinya, kenikmatan kopi akan tetap sama. Cara menikmatinya pun tiap individu berbeda tetapi tidak membedakan dengan orang-orang lainnya. Kopi merupakan identitas seseorang dengan keunikannya tersendiri. Tidak ada kopi paling lezat ataupun paling tidak enak, semua mewakili pembuatnya dengan selera, kreatifitas dan citra rasa tersendiri.

Cappucino
Kekreatifitasan kopi tidak terbatas pada pencampuran unsur-unsur gula, kopi dan air, tetapi sekarang sudah berkembang menjadi sebuah percobaan sains dan senirupa, baik disengaja ataupun tak disengaja. Seperti penemuan kopi moka yang tidak sengaja. Penemuan rasa baru ini terjadi karena tercampurnya biji kopi asal Jawa, Indonesia dengan biji kopi asal Yaman dalam perjalanan ke Perancis, di pelabuhan Mocha, Yaman. Sedangkan secara sains, cara penyajian kopi pun semakin rumit, tidak hanya diseduh dengan air mendidih tapi sekarang sudah ada penyeduhan dengan tekanan seperti espresso, atau penyulingan seperti Syphon Coffee yang bertujuan untuk semakin mengeksplorasi sang biji kopi.

 photo 7663af2a-29c5-4541-a9f5-954956ed8ea7_zpsa1dcceae.jpg

Saking banyaknya kreatifitas dalam secangkir kopi, terkadang kita lupa pada ide secangkir kopi. bahkan sekarang sudah terlalu banyak kopi yang berperasa kopi, sebut saja, mochaccino, frappaccino, cappuccino, al pacino...Bahkan warna kopi pun sekarang sudah absurd, hitamkah, coklatkah, cream kah atau bahkan putih? Tapi apapun gaya dan jenis kopi, sang kopi dapat mengubah persepsi orang tentang apapun menjadi lebih baik. Lihat saja penggemar kopi luak yang menikmatinya dan berani mengeluarkan uang ratusan ribu demi secangkir kopi luwak yang terkenal eksotis. Padahal kalo kita ikuti "perjalanan" kopi luwak, tidak akan ada yang mau  meminumnya, apalagi dengan harga mahal. Kopi juga bisa menjadi katalisator cinta seorang suami kepada istrinya, pasti deh sering mendengar ungkapan, "tiada kopi seenak buatan istri di rumah".

Kalau saya paling suka minum kopi pagi hari rame-rame di pantry. Di pantry kantor yang kecil, saya dan beberapa teman melakukan ritual pagi dengan membawa cangkir dan kopi sa-setan masing-masing, mengantri untuk mendapatkan air panas penyeduh kopi, duduk bersama dan saling mengomentari hal-hal tidak penting. Karena itulah kopi bagi saya adalah media sosial layaknya facebook, twitter, blog ataupun instagram. Dengan kopi saya bisa mengetahui status teman saya secepat facebook, menyapa semeriah kicauan twitter, melihat presentasi kopi seperti di instagram, bahkan  mendapatkan kisah bak membaca blog.

 photo 1366358477_zps65aa58d7.jpg

Akhirnya selesai sudah ritual suci pagi ini, saya harus meninggalkan kuil suci "pantry" menuju kegairahan menyambut hari dengan booster caffein. Dan tidak lupa saya ucapkan selamat tinggal, sampai jumpa pada cangkir kopi tercinta... Ahhhh akhirnya tulisan tentangmu selesai juga, kelegaan itu menyelimuti hati dipagi hari bersamaan dengan hangatnya genggaman pada cangkir kopi.....


Tulisan ini diikutkan dalam GA Lisa Gopar