Friday, August 15, 2014

Di Hiroshima aku menangis untukmu, Sadako....

Tulisan ini pernah di muat di Rubrik Backpacker, Harian Umum Pikiran Rakyat, pada Hari Minggu, 10 Agustus 2014, dengan judul 69 Tahun Hiroshima.

 photo IMG_9377_zps27cd8664.jpg

Perasaan campur aduk menghampiri saat Shinkansen Sakura yang kami naiki dari Osaka berhenti di Stasiun Hiroshima. Menjejakkan kaki di Hiroshima, kota yang diluluh lantakan oleh Bom Atom yang pertama diciptakan, seakan-akan menikmati gambaran turisme ‘gelap’, menyedihkan dan kenangan peperangan besar yang pernah terjadi di bumi ini.
 photo IMG_9397_zpse5cfc1f2.jpgThe Atomic Bomb Dome 
Dengan menggunakan trem kuno, perjalanan kami teruskan sampai ke hypocenter atau pusat bom atom ‘little boy’ dijatuhkan pada tanggal 6 Agustus 1945, pukul 08.15 pagi. Kedahsyatan bom atom dengan kekuatannya sejauh 4 kilometer tergambarkan disini. Satu-satunya bangunan yang masih berdiri, Genbaku dome atau Atomic bomb Dome, karya arsitek Cekoslavia Jan Letzel tahun 1914, yang dahulu dikenal sebagai Hiroshima Trade Promotion Hall hanya berjarak 150 meter dari hypocenter. Hiroshima sebetulnya bukan target utama, tapi karena saat itu Hiroshima berudara cerah dan target terlihat jelas, jadilah bom atom dijatuhkan untuk melumpuhkan pusat militer yang ada.

 photo IMG_9435_zps6e91c99a.jpg

Tetapi dilain pihak, di kota ini juga terdapat pusat industri dan pendidikan. Oleh karena itu banyak korban sipil yang berjatuhan, terutama anak-anak sekolah yang baru memulai aktifitas di pagi hari. Dan saat ini, Hiroshima Bom Atom Genbaku Dome menjadi warisan UNESCO World Heritage Site sejak tahun 1996. Setelah melewati Genbaku Dome, perjalanan dilanjutkan dengan menyeberangi Sungai Motoyasu menuju Children Peace Monument. 

 photo IMG_9404_zps0c0a1aa9.jpg

Sungai yang bersih dan jernih ini, sempat mendidih sampai dengan 4000 derajat Celsius saat bom dijatuhkan. Tapi sekarang kawasan sungai menjadi kawasan hijau dan asri seakan-akan tidak mau mengingat lagi masa yang lalu. Di taman yang asri ini, banyak keluarga korban bom atom yang menjadi volunteer untuk perdamaian. Dengan ramah, mereka bertanya asal kami dan kemudian memberikan foto-foto Genbaku Dome saat malam hari dan juga burung kertas lambang perdamaian. Children Peace Monument Monumen ini memaksa saya untuk menitikkan air mata. Monumen ini dibangun sebagai kenangan terhadap anak-anak korban radiasi, terutama untuk seorang anak yang bernama Sadako Sasaki. 

 photo IMG_9407_zps7fffe5c8.jpg

Sadako baru berusia 2 tahun saat bom dijatuhkan di Hiroshima. Rumahnya berjarak 2 kilometer dari tempat bom dijatuhkan. Seluruh kerabat dan tetangga di lingkungannya tewas, tetapi Sadako tidak terluka sedikitpun. Tetapi pada saat usia 10 tahun, Sadako terkena leukemia, yang saat itu dikenal sebagai penyakit bom atom. Menurut legenda di Jepang, jika bisa melipat origami burung kertas sebanyak 1000 buah, keinginannya akan terkabul. Karena ingin kembali bersekolah dan beraktifitas, Sadako melipat origami dalam kesakitannya, tetapi Sadako meninggal dunia ketika burung kertasnya mencapai 644. Kepergian Sadako membuat teman-temannya bersedih dan meneruskan keinginan Sadako untuk melipat burung kertas. Dan ternyata kegiatan melipat burung kertas ini mengilhami seluruh siswa sekolah di Jepang. Hampir 3100 sekolah dari 9 negara mengumpulkan dana untuk membuat Children Peace Monument untung mengenang Sadako dan keinginannya. Di dasar monument terdapat tulisan Dr. Hideki Yukawa, Pemenang Nobel Fisika dari Jepang,”This is our cry, This is our prayer, Peace in the world". Dan monumen ini menjadi pusat peringatan hari perdamaian yang jatuh setiap tanggal 6 Agustus di Jepang. 


Hiroshima Exhibition Hall 
“…all the people in this building died immediately” Kalimat yang membuat saya merinding ini menyambut di pintu museum.

 photo IMG_9429_zps769f4c2d.jpg

Harga tiket sebesar 50 yen menjadi tidak ada artinya.dibanding pengalaman batin yang didapat. Di museum ini terdapat peninggalan barang-barang dan foto-foto dari korban bom atom. Rasa khawatir efek radiasi dari barang-barang peninggalan sempat terbersit, tetapi pihak museum meyakinkan bahwa keamanan terjamin.

 photo IMG_9432_zps4e60751e.jpg

Demikian pula dengan lahan tempat memorial berdiri, karena sebulan setelah bom jatuh di Hiroshima, alam memainkan perannya dengan mengirimkan hujan dan badai besar yang membanjiri dan menyapu bersih seluruh Hiroshima. Museum ini terdapat dua sayap, Timur dan Barat. Di sayap Timur, tema utama adalah foto-foto Hiroshima sebelum dijatuhkan bomb. Dengan rangkaian foto digambarkan kegiatan penduduk Hiroshima sehari-hari. Di sayap Barat, merupakan koleksi barang-barang peninggalan korban bom atom. Seluruh petunjuk di museum ini mempunyai beberapa bahasa, termasuk Bahasa Indonesia.

 photo IMG_9426_zps0eeeded1.jpg

Penyusunan koleksi museum yang sangat tertata rapih ini, membawa kenangan hitam bom atom kembali dengan melihat dan merasakan benda-benda yang terbakar karena panasnya radiasi.

 photo IMG_9430_zps1a7bb6bb.jpg

Disalah satu sudut eksibisi, ditampilkan kumpulan buku-buku sejarah dari seluruh dunia yang memuat sejarah jatuhnya bom atom di Hiroshima. Dan ada buku PSPB dari Indonesia yang ditampilkan dalam display tersebut membawa ingatan kembali ke jaman SMA.

 photo IMG_9420_zps4347c59b.jpg

 Jika melihat koleksi dan kehancuran akibat dari ‘Little Boy” rasanya tidak percaya bisa melihat Jepang bangkit dalam waktu singkat dan menjaga eksistensinya sampai sekarang ini. Sampai saat ini Jepang selalu mengutuk percobaan bom nuklir diseluruh dunia karena merasakan akibatnya. Dan mereka sangat berperan aktif memerangi senjata nuklir di seluruh dunia dan tidak memiliki satu senjata nuklir sebagai peran aktifnya menjaga perdamaian di dunia. Miyajima Setelah cukup waktu bersedih dan meresapi arti dari jatuhnya bom atom, perjalanan kami lanjutkan ke Miyajiwa, sebuah pulau kecil diseberang Hiroshima yang bisa ditempuh menggunakan Ferry. Dengan waktu 20 menit, ferry menyebrangkan kami, dan sesampai di Miyajima, langsung di sambut oleh sekelompok rusa jinak. Disini memang rusa dibiarkan berkeliaran dengan bebasnya.

 photo IMG_9449_zps9087d25d.jpg

Miyajima yang artinya adalah pulau dewa memiliki banyak sekali kuil Dewa Shinto di bukit-bukitnya, tetapi atraksi utamanya adalah Itshukushima Shrine, yaitu gapura raksasa berwarna jingga dan terapung dilaut. Tetapi karena saat kami tiba, laut dalam keadaan surut sehingga tidak tampak gapura sedang terapung. Pulau ini menjadi tujuan wisatawan yang ingin menjauhkan diri dari hiruk pikuk kota. Kendaran bermotor juga jarang ditemui disini, apalagi jalanan disini hanya berupa gang-gang sempit.

 photo IMG_9448_zps0aa7f7cb.jpg

Untuk menikmati pulau ini, disediakan ropeway sebagai transportasi dari satu bukit ke bukit lainnya sambil menikmati pulau, laut dan Hiroshima. Bagi penggila makanan lau, jangan khawatir karena sepanjang jalan dipenuhi warung-warung yang menyediakan hidangan laut, dan makanan khas dari pulau ini adalah tiram bakar yang sangat segar. Jangan lupa sediakan persediaan Yen yang agak banyak, karena harga tiram yang merogoh saku sangat dalam. Penginapan disini pun banyak yang bergaya ryokan, yaitu tempat tidur tradisional Jepang. Jadi kalo ingin merasakan Jepang sesungguhnya, mampirlah kesini.

 photo IMG_9458_zpsadcb077d.jpg


 photo IMG_9462_zps7a5a5eb3.jpg